JAKARTA || Sektor pangan Indonesia menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni dampak konflik di Timur Tengah dan siklus El Nino. Dua tantangan ini dinilai berpotensi menekan produksi dalam negeri dan mengancam stabilitas pangan nasional.
Terkait konflik Timur Tengah, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, menjelaskan tantangan ini berpotensi mengganggu rantai pasok dan proses impor pangan nasional. Utamanya untuk produk-produk pangan seperti gula, bawang putih, bawang merah dan sejumlah komoditas lain yang masih cukup banyak diimpor Indonesia.
“Meski konflik di Timur Tengah mulai mengganggu rantai pasok global, pasokan bahan pangan utamanya seperti bawang merah, bawang putih, cabai, telur ayam, dan gula pasir, cukup,” ucap Amran dana rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
Tak hanya rantai pasok, menurutnya, perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel tersebut juga berisiko mengerek harga pangan sebagai implikasi dari kenaikan harga BBM akibat krisis energi global. Tingginya harga BBM dapat menimbulkan kenaikan biaya logistik saat impor sampai pengiriman produk pangan di dalam negeri.
Untuk mengatasi masalah ini, Amran mengatakan akan ikut mendorong peningkatan produksi pertanian seperti tebu, singkong, ubi, dan jagung yang dapat digunakan dalam implementasi biodiesel B50 dan bahan bakar campur etanol.
“Presiden Prabowo telah menginstruksikan untuk optimalisasi penggunaan bahan bakar nabati dari sawit, tebu, ubi kayu dan jagung. Selanjutnya Kementerian Pertanian telah menyusun rencana implementasi B50 tahun ini, InsyaAllah tahun ini Indonesia tidak akan impor solar sebanyak 5,3 juta ton. Ke depan kita akan implementasikan pabrik etanol dan bahan bakunya dari ubi, tebu dan jagung,” jelasnya
Selain dampak dari konflik Timur Tengah, Amran mengatakan saat ini Indonesia juga sedang berhadapan dengan kemarau hebat yang dikenal sebagai el nino. Kondisi ini diperkirakan melanda Indonesia mulai dari April hingga Agustus 2026.
“Indonesia dihadapkan pada ancaman kemarau yang akan terjadi pada sebagian besar wilayah Indonesia yang kita beri nama El Nino Godzilla. Data BMKG menunjukkan prediksi kemarau tahun 2026 mulai April, diawali di Nusa Tenggara Timur dan menyebar ke daerah lain dengan puncak kemarau bulan Agustus,” terang Amran.
Untuk menghadapi tantangan el nino tersebut, Kementan telah menginstruksikan kepada seluruh Gubernur dan Bupati se-Indonesia agar melakukan mapping wilayah langganan kekeringan dan ‘early warning system’, optimalisasi pengolahan air irigasi dan merehabilitasi irigasi, memanfaatkan pompanisasi perpipaan, melakukan percepatan tanam dengan varitas tahan kekeringan, mengatur pola tanam, dan masih banyak lagi.
“Untuk mendukung langkah-langkah tersebut, Kementerian Pertanian telah menyiagakan alat dan mesin pertanian berupa pompa air, traktor Hensbury Transplanter dan lain-lain, sebanyak 171 ribu unit,” tegasnya.
Lebih lanjut, Amran yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga mengatakan dalam proyeksi neraca pangan nasional hingga Mei 2026, ketersediaan komoditas pangan strategis nasional berada pada kondisi surplus dan relatif aman.
“Beberapa komoditas utama tercatat surplus, antara lain beras 16,39 juta ton, jagung 4,3 juta ton, gula konsumsi 632 ribu ton, daging ayam 837 ribu ton, telur ayam 423 ribu ton dan komoditas lain. Stok cadangan pangan pemerintah, Bulog 4,6 juta ton,” terangnya.
“Jadi kemarin 4,5, sekarang 4,6 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi stok beras nasional di Indonesia dipastikan aman untuk 10-11 bulan ke depan. Di sisi lain, El Nino diperkirakan 6 bulan. Jadi Insyaallah pangan kita aman,” ujar Amran.***DTK
















