Khamenei Dimakamkan, Babak Baru Konflik Iran-AS Dimulai

Ragam38 Dilihat

MASHHAD || Lebih dari empat bulan setelah tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pemakaman kenegaraan digelar secara tertutup di Makam Imam Reza, tempat suci bagi Syiah utama Iran, di kota kelahiran Khamenei, Mashhad, yang terletak di bagian timur laut Iran. Peti mati berisikan jenazah Khamenei dibawa pesawat dengan pengawalan jet tempur Iran. Pemakaman dilakukan pada Kamis (9/7) malam hari, setelah sebelumnya upacara berkabung digelar selama enam hari.

Putra dan penerus Khamenei, Mojtaba Khamenei, tampak tidak menghadiri upacara tersebut bersama para perwakilan pimpinan negara. Sebaliknya turut hadir dalam acara tersebut Ketua Parlemen Mohammed Bagher Ghalibaf, yang juga merupakan kepala negosiator pembicaraan dengan AS, serta Kepala Kehakiman, Gholamhossein Mohseni Edschei, dan putra tertua Ali Khamenei yang tewas, Mostafa Khamenei.

Bersama jasad Khamenei, beberapa anggota keluarganya yang juga tewas dalam serangan pada bulan Februari lalu turut dimakamkan, termasuk putri dan cucu perempuannya yang berusia 14 bulan, serta istri Mojtaba Khamenei turut dimakamkan.

Saat prosesi pemakaman digelar, banyak orang mengibarkan bendera Iran dan bendera merah, yang dianggap sebagai simbol pembalas dendam. “Tidak ada kompromi dengan para pembunuh,” seru para pengunjung yang menghadiri prosesi. Upacara dukacita di beberapa kota di Iran dan Irak dalam beberapa hari terakhir berulang kali berubah menjadi unjuk rasa massal menentang AS dan Israel

AS-Iran kembali gencarkan serangan intensif
Setelah disepakatinya MoU antara Washington dan Teheran bulan lalu, ketenangan sempat tercipta di kawasan tersebut. Namun pada Rabu (8/7) malam, AS kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Sebagai balasannya, angkatan bersenjata Iran kembali menyerang pangkalan-pangkalan sekutu AS di Kuwait dan Bahrain. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga mengancam pada hari Kamis (9/7) akan melancarkan serangan baru terhadap Iran.

Dalam serangan terbaru AS terhadap Iran pekan ini, menurut pejabat Iran, 17 orang tewas dengan 78 lainnya luka-luka. Serangan tersebut telah menyebabkan gangguan pada layanan kereta api antara ibu Kota Teheran dan Mashhad. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan terhadap infrastruktur tersebut sebagai kejahatan perang yang nyata. Dalam pernyataan pejabat Iran yang dikutip AFP, Angkatan Darat AS menargetkan puluhan target, salah satunya adalah pangkalan militer di dekat kota Bushehr, di selatan Iran. Bushehr merupakan satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir aktif di Iran.

Menurut Presiden ASDonald Trump, serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Trump dilaporkan telah memberi tahu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui telepon terkait tindakan AS di kawasan Teluk tersebut – seperti disampaikan kantor Netanyahu pada Kamis malam lewat platform daring X. Seorang perwakilan AS mengonfirmasi percakapan telepon tersebut, meski tidak menyebutkan rinciannya.

Aksi saling serang AS-Iran telah berulangkali mengancam gencatan senjata yang tengah diberlakukan kedua negara tersebut. Namun serangan terakhir yang digencarkan Iran pada Kamis (9/7) tampak lebih besar secara keseluruhan, membunyikan sirene bahaya sebanyak tiga kali di Bahrain – markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Selain itu, Iran juga menyerang dengan rudal balistik dan senjata nirawak yang menargetkan Kuwait, Qatar, dan Yordania.

Militer di Kuwait menyatakan satu orang terluka dari serangan iran tersebut, tiga rudal balistik, satu rudal jelajah, dan 10 pesawat nirawak berhasil ditembak jatuh. Bahrain menyatakan telah menembak jatuh serangan yang datang, tanpa rincian lebih lanjut. Sementara, juru bicara pemerintah Yordania, Mohammad al-Momani, mengatakan semua serangan yang datang dari Iran telah berhasil dicegat. Belum ada laporan langsung terkait kerusakan di Qatar.

Serangan AS hantam lebih banyak sasaran. Komando Pusat militer AS (CENTCOM) menyatakan telah menyerang 90 sasaran di seluruh wilayah Iran, sambil merilis rekaman hitam-putih yang tampaknya menunjukkan serangan terhadap landasan pacu bandara dan peluncur rudal.

AS menyatakan serangan tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kebebasan navigasi di selat Hormuz. Lalu lintas di selat tersebut sedikit meningkat sejak kesepakatan sementara bulan lalu yang mencakup pembukaan jalur air tersebut. Perusahaan data maritim Lloyd’s List Intelligence mengatakan bahwa data awal menunjukkan setidaknya 576 kapal melintasi selat tersebut pada Juni, dibandingkan dengan 233 pada Mei, sedang ebih dari 3.100 kapal melintasi selat tersebut pada Juni 2025.

Israel peringatkan ancaman pembunuhan Trump?
Menurut laporan Wall Street Journal dan stasiun televisi AS CNN, mengutip sumber anonim, Israel telah memperingatkan pemerintah AS mengenai rencana Iran untuk membunuh Presiden Donald Trump. Menurut laporan tersebut, pimpinan di Teheran baru-baru ini merancang rencana tersebut. Pemerintah AS belakangan ini sering menerima peringatan serupa, namun peringatan Israel ini tergolong baru dan merujuk pada rencana serangan yang konkret, demikian kutipan CNN dari seorang pejabat pemerintah AS.

Pejabat AS lainnya menduga bahwa peringatan Israel tersebut mungkin merupakan upaya untuk mempengaruhi Trump terkait langkah selanjutnya dalam konflik AS-Iran, lanjut laporan stasiun televisi AS tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini menyerukan kebijakan yang jauh lebih keras terhadap Teheran dan sempat memicu perselisihan dengan Trump.

Dalam penerbangan pulang dari KTT NATO di Ankara, Trump tidak menggunakan Air Force One yang baru. Hal ini turut memicu spekulasi mengenai risiko keamanan dari hadiah yang diberikan oleh Qatar tersebut. “Saya adalah nomor satu dalam daftar target pembunuhan Iran,” kata Trump.

Bagaimana nasib negosiasi AS-Iran?
Negosiasi untuk mencapai kesepakatan akhir dijadwalkan akan dimulai setelah pemakaman Khamenei. Pembicaraan tersebut dimaksudkan untuk berfokus pada isu-isu paling sulit, termasuk pembukaan kembali selat secara penuh dan penghentian program nuklir Teheran yang kontroversial.

Namun Trump mengatakan pada Rabu (8/7) bahwa perjanjian gencatan senjata sementara telah berakhir. Ia mengatakan negosiasi akan terus berlanjut, tetapi menganggap para negosiator membuang-buang waktu.

Sementara media digital AS, Axios, menyebut serangan-serangan terbaru Iran di selat yang penting bagi perdagangan global minyak, gas, dan pupuk tersebut diprakarsai pihak-pihak di dalam kepemimpinan Iran yang menentang perjanjian AS-Iran. Selat Hormuz telah terbukti menjadi alat tekanan ekonomi dan militer terkuat bagi Iran dalam konflik ini.

Pembukaan kembali selat tersebut merupakan elemen sentral dari perjanjian tersebut. Pimpinan militer Iran bersikeras, sesuai perjanjian, bahwa mereka bertanggung jawab penuh atas pengelolaan selat tersebut. Dari sudut pandang Teheran, menyerah bukanlah “pilihan yang realistis,” tulis pakar Iran asal Israel, Danny Citrinowicz, di platform X.

Para pembuat kebijakan Iran berasumsi bahwa mereka masih memiliki peluang untuk melakukan eskalasi, termasuk kemampuan untuk meningkatkan tekanan di Laut Merah dan di sekitar Selat Bab al-Mandab yang strategis di pintu masuk Laut Merah, tulis pakar tersebut. Gangguan terhadap lalu lintas kapal regional telah menyebabkan kenaikan harga minyak. Dari sudut pandang Teheran, pasar energi dapat terus menjadi alat tekanan. Teheran tampaknya tidak akan bersedia melepaskan alat ini secara sukarela.

Dengan demikian, AS “berada di hadapan keputusan strategis yang sulit,” tulis Citrinowicz. Pilihannya adalah melanjutkan kebijakan mereka dan dengan demikian berisiko memicu eskalasi lebih lanjut di kawasan serta tekanan baru pada pasar energi global atau Washington kembali ke meja perundingan dan menangani isu-isu keamanan tertentu melalui saluran diplomatik terpisah.

Menurut Axios, para mediator berpendapat bahwa kedua pihak yang bertikai terlepas dari eskalasi terbaru telah mencapai kemajuan dalam putaran pembicaraan sebelumnya menuju kesepakatan nuklir. Negara-negara mediator pun ingin mencegah agar kesepakatan tersebut tidak gagal.

Kepada kantor berita dpa, pejabat AS tersebut menegaskan, pembicaraan teknis masih berlangsung: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.***DTK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *