Ekonomi RI Jauh dari Biang Kerok Krisis Seperti 1998!

Ekonomi44 Dilihat

JAKARTA || Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung membantah tegas anggapan yang menyebut ekonomi Indonesia menuju krisis seperti 1997-1998. Dia mengatakan saat ini kondisi ekonomi Indonesia dalam kondisi yang kuat di tengah tekanan global dan jauh dari biang kerok penyebab krisis.

Juda Agung memaparkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61%, sementara inflasi April 2026 terjaga di level 2,42%. Kemudian konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52%, angka ini menurutnya menunjukkan daya beli masyarakat Indonesia masih kuat.

Dia juga menyebut pengeluaran pemerintah tumbuh hingga 22%. Juda juga memaparkan sampai April 2026 pendapatan negara mencapai Rp 918 triliun atau tumbuh 13,3%, sektor perpajakan sendiri tercatat tumbuh 16,1%, sementara itu belanja negara tumbuh tinggi hingga 34,3%. Di tengah belanja yang cukup tinggi tersebut, Juda menyampaikan defisit APBN masih terkendali di level 0,64% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini turun dibanding kuartal I yang mencapai 0,92%.

“Tadi Pak Misbakhun sempat menyinggung bahwa banyak kalangan, baik di media termasuk media sosial mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti 97, 98. Kalau melihat angka-angka tadi, kita itu jauh dari situasi krisis,” ujar Juda Agung dalam acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) Tahun 2026, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Secara historis, saat ini perekonomian Indonesia juga berjalan tanpa adanya sumber utama biang kerok krisis. Da menjelaskan terdapat tiga sumber utama yang biasanya memicu krisis ekonomi di berbagai negara.

Pertama adalah krisis fiskal. Dia mengatakan krisis fiskal pernah terjadi di kawasan Amerika Latin pada 1980-an akibat defisit fiskal yang membengkak dan hilangnya kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah.

Di Indonesia sekarang, defisit relatif terbatas masih dijaga di bawah 3% dan pembiayaan fiskal juga masih sangat dipercaya oleh investor baik domestik maupun asing.

“Kelihatan dari yield-nya, kalau investor tidak percaya pada yield kita pada fiskal kita maka yield-nya akan melonjak. Sekarang ini di sekitar 6,5-6,7%, ya ada peningkatan tapi tidak signifikan peningkatannya. Jadi fiskal, krisis yang bersumber dari fiskal tidak ada tanda-tandanya,” ujar Juda Agung.

Kedua, biang kerok krisis ekonomi adalah timpangnya neraca pembayaran seperti kondisi di 1997-1998. Juda menjelaskan pada tahun tersebut banyak perusahaan menarik utang luar negeri dalam jumlah besar sehingga kolaps ketika terjadi pelemahan nilai tukar.

“Kemudian terjadi pelemahan nilai tukar terjadi sudden shock ya istilahnya, maka utang banyak perusahaan yang kolaps karena tidak bisa lagi membayar hutang luar negeri dan neraca pembayaran kita waktu itu memang sangat jeblok dan saat ini kalau kita lihat angka-angka neraca pembayaran kita relatif sehat dan relatif balance. Jadi dari krisis neraca pembayaran tidak ada tanda-tanda itu,” papar Juda.

Yang terakhir, krisis ekonomi bisa muncul dari sistem keuangan. Misalnya, dia mencontohkan adanya peningkatan pinjaman dan tidak bisa dibayar. Dia mencontohkan krisis semacam ini pernah terjadi di Amerika Serikat (AS) pada 2008.

“Lending besar-besaran, bubble terjadi di berbagai sektor termasuk sektor properti misalnya. Dan ketika bubble itu burst, bubble itu pecah maka terjadi kolaps di sistem perbankan atau terjadi krisis di sistem keuangan,” papar Juda.

“Seperti 2008 di Amerika dan sebagainya terjadi bubble tanda-tanda itu tidak ada juga di kita. Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data-data yang kita amati sampai dengan hari ini,” sambungnya.***DTK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *