WASHINGTON DC || Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi peringatan kepada Israel. Dia mengklaim bahwa Israel akan “hancur lebur” tanpa dukungan dirinya.
Trump juga mengatakan bahwa Washington harus menjaga Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu tetap “waras” terkait isu Lebanon, sembari mengklaim dirinya masih menjalin hubungan baik.
Trump dalam wawancara dengan media Axios, seperti dilansir Anadolu Agency dan New York Post, Sabtu (20/6/2026), menegaskan bahwa dirinya dapat mengendalikan tindakan militer Israel di Lebanon karena para pejabat Tel Aviv “melakukan apa yang saya katakan.”
Dalam wawancara yang dipublikasikan pada Jumat (19/6), Trump mengkritik sekutunya tersebut dan mengatakan bahwa dirinya telah kehilangan rasa hormat untuk “kalangan garis keras” di Israel yang menginginkannya terus berperang melawan Iran.
Trump kemudian menekankan superioritas militer AS, dengan mengatakan bahwa Washington yang menyediakan “senjata” dan “pesawat pengebom”. Dia bahkan mengklaim bahwa tanpa dukungannya, Israel akan “hancur lebur”.
“Jika bukan karena Donald Trump — dan Bibi Netanyahu bekerja sama secara baik dengan saya, tetapi dia akan memberitahu Anda, kamilah yang memiliki senjata, kamilah yang mendapatkan seluruh kesepakatan, kamilah yang memiliki pesawat pengebom B-2, dan lain-lain,” kata Trump kepada reporter Axios, Mark Caputo.
“Jika bukan karena Donald Trump, Israel akan hancur lebur,” tegas Trump dengan nada memperingatkan.
Pernyataan itu menggemakan komentar Trump pada awal pekan ini, yang menegaskan bahwa: “Tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel.”
Ketika ditanya lebih lanjut soal apakah dirinya mampu mencegah Israel menyerang Hizbullah di Lebanon untuk mempertahankan kesepakatan damai dengan Iran, Trump menegaskan: “Iya, saya akan mampu melakukannya.”
“Mereka sangat menghormati saya, dan mereka melakukan apa yang saya katakan,” ucap Trump dengan yakin.
Pernyataan Trump ini bertepatan dengan pengumuman perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, yang mulai berlaku pada Jumat (19/6) sore, pukul 16.00 waktu setempat. Namun Israel terus melanjutkan serangan-serangan terhadap wilayah Lebanon, yang diklaim menargetkan Hizbullah.
Awal pekan ini, Trump menyarankan kepada Netanyahu untuk menggunakan “pendekatan lebih lunak” di Lebanon. Dia mengingatkan bahwa Israel tidak perlu “merobohkan bangunan setiap kali seseorang dari Hizbullah masuk ke dalamnya” — merujuk pada pengeboman Israel yang marak di area permukiman Lebanon.
Menhan Israel Tolak Kritikan AS
Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa “tidak ada yang dapat memberitahu kami apa yang harus dilakukan” setelah kritikan Amerika Serikat (AS) menghujani para pejabat Tel Aviv yang menolak kesepakatan damai AS-Iran.
Katz dalam wawancara dengan media Israel, Channel 14, seperti dilansir Middle East Monitor, Sabtu (20/6/2026), kembali memperingatkan bahwa Israel akan segera merespons dengan kekuatan jika Iran menyerang.
“Jika Iran menyerang kami, kami akan bertindak segera dan merespons dengan kekuatan. Tidak ada yang dapat memberitahu kami apa yang harus dilakukan, dan kami telah membuktikannya,” kata Katz dalam pernyataannya.
“Semua kemampuan ada dan sedang dibangun,” imbuhnya, sembari mengatakan bahwa Israel dapat “merespons segera atau bertindak kemudian.”
Ditegaskan oleh Katz bahwa Israel mampu untuk berperang sendiri melawan Hizbullah di Lebanon, jihadis di Suriah, hingga Hamas di Jalur Gaza.
“Kami tidak pernah meminta AS untuk berperang bersama kami melawan Hizbullah di Lebanon, melawan elemen-elemen jihadis di Suriah, atau melawan Hamas di Gaza. Kami melakukannya sendiri,” ucap Katz dalam pernyataannya.
“Kami mengharapkan, dan masih mengharapkan, bahwa AS akan mendukung hak kami dan memberikan kami payung diplomatik, bukan payung militer, untuk bertindak melawan semua musuh ini,” ujarnya.
“Di Lebanon, di Suriah, dan di Gaza, kami tidak akan pindah dari zona keamanan. Tidak di Suriah, tidak di Gaza, dan tidak di Lebanon, kami tidak akan meninggalkan tempat itu dalam situasi apa pun,” tegas Katz.
Pernyataan ini disampaikan beberapa hari setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri pertempuran di semua front, termasuk Lebanon. Para pejabat dan menteri Israel mengkritik keputusan tersebut dan bersumpah tidak akan mematuhi ketentuan dalam perjanjian itu.
Penolakan Tel Aviv itu menuai tanggapan keras dari Wakil Presiden AS JD Vance, yang melontarkan kritikan tajam terhadap para pejabat pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu. Vance memperingatkan Tel Aviv bahwa Washington merupakan “satu-satunya sekutu kuat” mereka yang masih tersisa di dunia.
“Jika saya berada dalam kabinet pemerintahan Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang saya miliki di seluruh dunia,” tegas Wapres AS itu dengan nada marah.***DTK
