Siaga Bencana Hidrometeorologi, Rico Waas Pimpin Rapat Lintas Lembaga

Medan10 Dilihat

MEDAN || Belajar dari pengalaman pahit banjir yang melumpuhkan 19 dari 21 kecamatan di Kota Medan pada 27 November 2025 lalu, Pemko Medan langsung bergerak cepat dengan menggelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, di Balai Kota Medan, Rabu (28/10/2026).

​Rapat ini turut dihadiri Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap, Pj Sekda Kota Medan Erfin Fachrurrazi, unsur Forkopimda Kota Medan, pimpinan Perangkat Daerah, para Camat serta jajaran lintas instansi mulai dari, BMKG, BWS, TNI, Polri, Basarnas, Kejaksaan, hingga para pemangku kepentingan terkait.

​Dalam arahannya, Wali Kota Medan Rico Waas menekankan pentingnya membangun mentalitas siaga dan kesiapan taktis, bukan sekadar reaktif saat bencana sudah terjadi.

“Tahun lalu kota Medan dilanda banjir di 19 Kecamatan dengan dampak masyarakat hingga mencapai 85.000 jiwa. Maka tahun ini, kita kembali dihadapkan pada potensi problematika hidrometeorologi. Kapan tepatnya terjadi tentu kita tidak tahu, dan kita berharap jangan sampai terjadi. Namun apabila terjadi kondisi yang sama atau lebih parah, apa yang harus kita lakukan? Jangan sampai kita kalang kabut,”ujar Rico Waas dihadapan para peserta rapat.

​Rico Waas menyoroti bahwa ancaman tidak hanya datang dari curah hujan lokal di dalam kota, melainkan juga dari kiriman air di hulu. Ia mencontohkan kejadian beberapa hari sebelumnya, meskipun di Medan tidak turun hujan lebat, namun peningkatan debit air sungai mencapai setinggi 50–60 cm tetap terjadi akibat hujan lebat di kawasan hulu.

“Hujan di hulu saja bisa menyebabkan air kita bisa naik, bagaimana lagi apabila terjadi hujan yang cukup lebat juga terjadi di kota Medan. Ini bisa kita pantau dari Kecamatan Medan Tuntungan dan Kecamatan Medan Selayang,” kata Rico Waas.

Dalam rapat tersebut, orang nomor satu di jajaran Pemko Medan itu langsung merincikan sejumlah instruksi untuk segera ditindaklanjuti, diantaranya :

1. Pemetaan jalur evakuasi dan Assembly Point yang dilakukan BPBD bersama pihak kecamatan dan kelurahan guna memastikan kejelasan titik kumpul (assembly point) dan siapa penanggung jawab di lapangan, serta nomor kontak darurat yang terverifikasi dan aktif.

2. Kesiapan logistik & peralatan evakuasi yang meliputi ketersediaan perahu karet, perahu bermesin, logistik pangan di setiap wilayah kecamatan harus dipastikan siap pakai tanpa kendala birokrasi yang berbelit.

3. Berkaca dari kejadian tahun lalu di mana gardu PLN di Mabar terendam banjir dan mematikan aliran listrik di Medan bagian utara mencakup Medan Deli, Labuhan, Marelan, hingga Belawan yang berujung pada terputusnya jalur komunikasi. Dinas Kominfo diminta langsung menyiapkan langkah antisipasi penggunaan perangkat jaringan alternatif seperti Starlink di titik-titik yang dibutuhkan.

​Menutup arahannya, Rico Waas menegaskan bahwa seluruh instansi harus bekerja efektif dan terkoordinasi secara taktis. Ia tidak ingin lagi melihat koordinasi yang lambat atau instansi yang saling lempar tanggung jawab di saat masyarakat membutuhkan bantuan darurat.

Maka dari itu ​sebagai langkah nyata ketahanan bencana, Pemko Medan akan segera menggelar simulasi penanganan bencana banjir.

“Jadi kita langsung kerja. Jangan nanti koordinasinya kelamaan, orang akan bilang kenapa rapat-rapat aja. Besok kita akan melakukan simulasi, kalau ada yang error, disitu langsung kita evaluasi sehingga pada saat kejadian yang sesungguhnya kita tidak lagi kaget,” tegas Rico Waas.

Sementara itu Kepala Balai BMKG Wilayah I Medan Hendro Nugroho mengatakan saat ini BMKG mengonfirmasi bahwa seluruh wilayah di Sumatera Utara telah memasuki musim hujan sejak Oktober, November, hingga Desember. Dalam periode ini secara historis memiliki tingkat curah hujan yang tinggi.

​Kendati demikian, BMKG telah memberikan peringatan dini agar masyarakat tetap waspada. Sebab gangguan atmosfer sewaktu-waktu dapat memicu peningkatan curah hujan ekstrem secara mendadak.

“BMKG mengingatkan kembali potensi cuaca ekstrem. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi prakiraan cuaca dari BMKG guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi akibat dinamika atmosfer yang tidak menentu,” terangnya.

Di tempat yang sama, Kepala BPBD Kota Medan Yunita Sari mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan evakuasi secara mandiri apabila genangan air mulai meninggi, tanpa harus menunggu kedatangan petugas.

“Kewaspadaan sangat diperlukan. Masyarakat harus menyiapkan tas siaga bencana. Di dalam tas tersebut, berisikan kelengkapan keluarga, berbagai dokumen penting seperti ijazah dan surat tanah. Dan bagi keluarga yang memiliki bayi, perlengkapan seperti susu dan pampers juga harus dipersiapkan,” ujar Yunita Sari.

Selain itu, bilang Yunita Sari, BPBD kota Medan saat ini telah menyiagakan sebanyak 53 personil Tim Reaksi Cepat (TRC). Tim ini bertugas untuk membantu proses evakuasi di 21 kecamatan dengan dukungan peralatan yang telah disiapkan.

“​Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan darurat atau ingin melaporkan kondisi terdampak, BPBD telah menyediakan layanan informasi dan pengaduan melalui Pusdalops (Pusat Pengendali Operasi). Warga dapat menghubungi nomor layanan Pusdalops di 0813-7080-0880 atau memantau pembaruan informasi melalui akun media sosial resmi Instagram BPBD,” jelasnya.***WASGO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *