NTT Diguncang 1.624 Gempa Susulan, Terbesar Magnitudo 6.2

Ragam22 Dilihat

JAKARTA || Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sudah 1.624 gempa susulan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa terbesar dengan kekuatan magnitudo (M) 6,2.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengungkap data tersebut dihimpun sampai pukul 11.00 WIB. Di antara ribuan gempa susulan tersebut, gempa dengan magnitudo (M) 5 sebanyak 23 kejadian dan gempa bumi susulan yang dirasakan berjumlah 59.

Wijayanto mengatakan BMKG juga telah menerjunkan tim gabungan untuk melakukan survei gempa bumi merusak. Survei ini bertujuan mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana

“BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempa bumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan,” papar Wijayanto dalam keterangannya, Senin (17/8/2026).

BMKG juga telah melakukan sosialisasi dan membantu menenangkan masyarakat dalam menghadapi kondisi pascagempa. Masyarakat juga diimbau agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi, serta mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi.

Sepeti diketahui, gempa bumi pertama kali terjadi di wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB dengan parameter update M 7,7 sehingga berdampak tsunami di wilayah sekitarnya. Gempa bumi jenis dangkal ini disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Beberapa wilayah terdampak di antaranya Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, Jeneponto dengan status Siaga dan wilayah Flores Timur, Bima, Dompu, Wajo untuk status Waspada. Peringatan dini tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07:30:00 WIB atau 2 jam 31 menit 37 detik setelah gempa bumi.

Korban Jiwa Jadi 54 Orang
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto sebelumnya mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di NTT per hari ini tercatat sebanyak 54 jiwa. Sedangkan pendataan korban luka-luka masih terus berjalan secara dinamis.

Dia pun menginstruksikan pemerintah daerah untuk melakukan pendataan kerusakan secara paralel dan berjenjang tanpa harus menunggu data rampung 100 persen, agar intervensi perbaikan bisa langsung dieksekusi.

“Pendataan rumah masyarakat yang rusak, baik rusak ringan, sedang, maupun berat menjadi prioritas utama kami. Kerusakan fasilitas umum seperti kantor bupati menjadi prioritas berikutnya setelah pemukiman warga terpenuhi,” ujar Suharyanto dalam keterangannya.

“Pendataan tidak perlu menunggu selesai semua, begitu ada data valid yang masuk, perbaikan langsung kita proses agar penanganan berjalan lebih cepat,” imbuhnya.***DTK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *