Duh! Anggaran Riset Tahun 2023 Terendah Sepanjang Sejarah Iptek

Ragam672 Dilihat

ANGGARAN riset nasional tahun 2023 yang akan dikelola Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hanya Rp2,2 triliun dan menjadi yang terendah sepanjang sejarah pembangunan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) nasional.

“Saya prihatin anggaran riset nasional di tahun 2023 ini menjadi yang terendah sepanjang sejarah iptek nasional,” sebut anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto seperti dilansir dari laman DPR dikutip, Sabtu (18/2).

Saat ini, kata Mulyanto, anggaran riset merosot hanya sebesar Rp2,2 triliun atau 0,01% terhadap PDB. Telah terjadi kontraksi anggaran riset yang cukup dalam. Jika dibandingkan anggaran pada 2017 yang mencapai Rp24,9 triliun atau 0,2% terhadap PDB (produk domestik bruto).

“Dengan kata lain, menciut lebih dari 1/20 kali,” imbuhnya.

Ia menilai hal tersebut karena BRIN tidak mampu mengkonsolidasi program semua lembaga riset di bawah naungannya. Kepala BRIN tidak memiliki visi besar dalam mengembangkan riset nasional.

Politisi Fraksi PKS ini mengaku heran dengan minimnya alokasi anggaran riset tahun ini. Padahal di BRIN duduk dua orang Wakil Ketua Dewan Pengarah BRIN yang juga menjabat sebagai Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas.

Keduanya berwenang mengatur anggaran dan perencanaan pembangunan nasional. Namun sayangnya anggaran untuk lembaga yang dipimpinnya malah minim.

“Menurut saya BRIN bukan saja tidak mampu mengkonsolidasikan anggaran riset dari berbagai badan litbang kementerian teknis, namun juga tidak mampu menahan agar anggaran riset tersebut tidak dialihkan untuk kegiatan nonriset di kementerian teknis. Dengan peleburan 34 lembaga iptek kedalam BRIN, praktis anggaran riset pemerintah terpusat di dalam BRIN, yang pada tahun 2023 dialokasikan sebesar Rp2,2 triliun atau 0,01% terhadap PDB,” papar Sekretaris Kementerian Ristek dan Dikti pada periode 2010-2013 itu.

Tidak hanya itu, yang lebih membuat miris Politisi asal daerah pemilihan Banten I ini karena alokasi anggaran BRIN yang tidak seberapa lebih banyak dialokasikan untuk kegiatan dukungan manajemen dari pada kegiatan riset. Total anggaran BRIN untuk tahun 2023 sebesar Rp6,5 triliun, sekitar 65% digunakan untuk kegiatan dukungan manajemen, seperti pembayaran gaji pegawai, perawatan gedung dan kendaraan dll. Sisanya sebesar Rp2,2 triliun atau sebesar 35% digunakan untuk kegiatan penelitian.

“Dengan keterbatasan itu, alih-alih menghemat anggaran dukungan manajemen, langkah yang diambil Kepala BRIN malah penutupan berbagai pusat riset; penghentian berbagai program strategis; pengkompetisian dana riset; penggunaan bersama ruang dan kursi staf; sharing alat lab; pemberhentian para honorer ahli; dll. dalam rangka menekan biaya operasional riset,” tambahnya.

Mulyanto menilai, BRIN bukannya unjuk kinerja berupa munculnya produk inovasi kebanggaan anak bangsa atau tampilnya prestasi para ilmuwan kita di pentas internasional, yang terjadi malah banyak pengurangan program riset. Ia menduga kondisi tersebut terjadi akibat pemerintah salah urus kelembagaan riset.

Peleburan kelembagaan riset sarat politisasi, kapasitas kepemimpinan rendah, menurut Mulyanto pula, berujung pada kondisi BRIN yang amburadul. Eksperimentasi kelembagaan riset seperti ini, katanya, berbahaya dan bisa memakan banyak korban. “Peleburan kelembagaan Iptek ini gagal. Konsolidasi lebih dari dua tahun tidak membuahkan hasil. Sebaiknya kita kembalikan kelembagaan riset dan inovasi seperti sedia kala,” tegasnya.***MIOL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *