Kunjungi Stand Disbudparekraf di PRSU 2026, Wagubsu Belajar Membatik

Medan36 Dilihat

MEDAN || Booth Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Provinsi Sumatera Utara menjadi perhatian Wakil Gubernur Sumut Surya saat mengunjungi stand Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) 2026.

Pandangannya tertuju pada demontrasi membatik. Surya langsung praktik membatik, mencantingkan lilin panas di atas kain katun yang telah diberi pola dasar, dipandu Nadila Farhana dan Mai Yusnanda selaku Pamong Budaya Ahli Pertama UPTD Taman Budaya Sumut.

‎Motif yang dikerjakan adalah logo 50 tahun PRSU sebagai elemen utama, dipadu ragam ornamen khas Sumut yang merepresentasikan kekayaan seni dan budaya daerah.

‎Kehadiran Surya membatik menjadi simbol apresiasi pemerintah terhadap pelestarian warisan budaya sekaligus dukungan bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. ‎Menegaskan bahwa PRSU tidak hanya ajang hiburan, tetapi ruang promosi budaya, pemberdayaan pelaku kreatif, dan penguatan identitas budaya.

Dirinya mewakili gubernur membuka PRSU 2026 di Open Stage Tapian Daya, Kota Medan, Jumat malam. ‎Surya menegaskan penyelenggaraan PRSU diharap menjadi penggerak ekonomi daerah melalui promosi UMKM, investasi, pariwisata, serta penguatan sektor ekonomi kreatif berbasis budaya dengan target 300 ribu pengunjung.

‎Ada 22 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Sumut yang ikut pameran. Stand UPTD Taman Budaya menghadirkan beragam karya seni rupa, hasil workshop batik dan produk ekonomi kreatif yang melibatkan generasi muda.

‎Kepala UPT Taman Budaya Sumut Tommy Clinton Marpaung terharu atas perhatian Surya. ‎Menurutnya, kehadiran pimpinan menjadi dorongan moral bagi para pelaku seni dan generasi muda untuk terus berkarya.

“PRSU tidak hanya ruang rekreasi masyarakat, tetapi wadah strategis promosi produk unggulan UMKM dan destinasi wisata,” katanya, Jumat (3/7/2026) malam.

‎Nadila menambahkan, stand-nya tidak hanya menampilkan hasil karya batik, juga produk ekonomi kreatif berbasis budaya. Produk-produk kreatif ini pengembangan nilai budaya menjadi karya yang memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

“Selain produk ekonomi kreatif, kami menghadirkan koleksi artefak dari UPT Museum Gedung Arca Sumut,” kata lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Artefak yang dipamerkan adalah Pustaha Laklak, Tunggal Panaluan, Bulu Parhalaan atau Kalender Batak, Kala Hati, Buli-buli, Pamungkor Unte, Perminaken, Debata Idup, Kukuran Kelapa dari Nias dan Gendang Melayu.

‎Kehadiran koleksi etnografi tersebut bertujuan mengenalkan kekayaan sejarah, tradisi dan kearifan lokal kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya.

‎Salah seorang perajin batik, Mai Harahap alumni Institut Seni Indonesia Padangpanjang mengaku mulai menekuni seni membatik sejak duduk di SMK hingga berlanjut saat kuliah. ‎Baginya membatik bukan sekadar keterampilan, melainkan upaya menjaga warisan budaya bangsa.

“Batik mengajarkan ketelitian, kesabaran, dan kecintaan budaya. Generasi muda memiliki tanggung jawab untuk terus melestarikannya,” ucap Mai.***WASGO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *