Enam Tahun Berseteru, Iran dan Saudi Rujuk karena Tiongkok

Ragam505 Dilihat

IRAN dan Arab Saudi telah sepakat untuk membangun kembali hubungan diplomatik. Teheran serta Riyadh akan membuka kembali kedutaan masing-masing dalam waktu dua bulan ke depan.

Kesepakatan itu dicapai melalui pertemuan kedua delegasi yang ditengahi Tiongkok, pada Jumat (10/3), di Beijing.

Media pemerintah Iran memposting gambar dan video berisi pertemuan itu yang dihadiri Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Shamkhani, Penasihat Keamanan Nasional Arab Saudi Musaad bin Mohammed al-Aiban dan Diplomat Paling Senior Tiongkok Wang Yi. “Setelah menerapkan keputusan itu, para menteri luar negeri kedua negara akan bertemu untuk mempersiapkan pertukaran duta besar,” kata televisi pemerintah Iran.

Dalam rekaman yang ditayangkan oleh media Iran, Wang menyampaikan selamat atas kebijaksanaan kedua negara membangun kembali diplomasi. “Kedua belah pihak telah menunjukkan ketulusan. Tiongkok mendukung penuh perjanjian ini,” kata Wang Yi.

Media Arab Saudi, Saudi Press Agency juga mengkonfirmasi kesepakatan tersebut dan menerbitkan pernyataan bersama Arab Saudi dan Iran. Riyadh dan Teheran juga menyepakati dan menghormati kedaulatan juga tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing. Pernyataan itu juga mengatakan Riyadh dan Teheran telah sepakat untuk mengaktifkan perjanjian kerja sama keamanan yang ditandatangani pada 2001.

Riyadh, Teheran, dan Beijing menyatakan keinginan mereka untuk mengerahkan semua upaya untuk meningkatkan perdamaian dan keamanan regional dan internasional.

Kantor berita Iran, IRNA, mengutip Shamkhani yang menyebut pembicaraan di Beijing sangat jelas, transparan, komprehensif dan konstruktif.

“Menghapus kesalahpahaman dan pandangan berorientasi masa depan dalam hubungan antara Teheran dan Riyadh pasti akan mengarah pada peningkatan stabilitas dan keamanan regional serta meningkatkan kerja sama antara negara-negara Teluk Persia dan dunia Islam untuk mengelola tantangan saat ini,” kata Shamkhani.

Sementara Wang mengatakan Tiongkok akan terus memainkan peran konstruktif dalam menangani masalah hotspot dan menunjukkan tanggung jawab sebagai negara besar. Sebagai mediator yang beriktikad baik dan dapat diandalkan.

“Tiongkok telah dengan setia memenuhi tugasnya sebagai tuan rumah dialog,” katanya.
Putus Hubungan Sejak 2016

Ketegangan telah lama terjadi antara rival kedua negara itu. Riyadh memutuskan hubungan dengan Teheran pada 2016 setelah pengunjuk rasa menyerbu pos diplomatiknya di Iran.

Arab Saudi telah mengeksekusi seorang cendekiawan Muslim Syiah terkemuka beberapa hari sebelumnya, yang memicu demonstrasi di Iran.

Iran yang mayoritas Syiah dan Arab Saudi yang mayoritas Sunni mendukung pihak-pihak yang bersaing di beberapa zona konflik di Timur Tengah, termasuk di Yaman. Pemberontak Houthi didukung oleh Teheran sementara Riyadh memimpin koalisi militer yang mendukung pemerintah.

Selain perang di Yaman, Iran dan Arab Saudi juga bersitegang di Libanon dan Suriah. Oleh karena itu, hubungan yang lebih baik antara Teheran dan Riyadh dapat berdampak pada politik di Timur Tengah.

Dengan kesepakatan ini, ada kemungkinan kita mulai melihat kompromi di negara-negara tersebut. Kesepakatan baru ini dapat mengarah pada terciptanya situasi keamanan yang lebih baik di wilayah tersebut.

CEO Center for Applied Research in Partnership with the Orient, sebuah think tank yang berbasis di Jerman, Adnan Tabatabai mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Tiongkok memiliki kepentingan besar untuk tidak melihat situasi keamanan regional. Itu seperti pada 2019 ketika saluran air Hormuz menjadi tempat berbagai ledakan dan serangan.

“Ada kepentingan yang melekat bagi Tiongkok untuk mencoba dan menggunakan pengaruh yang mereka miliki terhadap Teheran dan Riyadh untuk melakukan beberapa upaya untuk menyeimbangkan hubungan ini dan menyelesaikan apa yang sebenarnya telah dimulai oleh Irak dan Oman,” kata Tabatabai.
Beijing Pembeli Utama Minyak Arab

Presiden Iran Ebrahim Raisi mengunjungi Beijing bulan lalu, dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berada di Riyadh pada Desember untuk menghadiri pertemuan dengan negara-negara Teluk Arab yang kaya minyak yang penting untuk pasokan energi Tiongkok.

Beijing adalah pembeli utama minyak Arab Saudi. Seorang juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih mengatakan Amerika Serikat mengetahui laporan bahwa Iran dan Arab Saudi telah melanjutkan hubungan diplomatik.

“Secara umum, kami menyambut setiap upaya untuk membantu mengakhiri perang di Yaman dan mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah,” katanya.

Washington mengklaim deeskalasi dan diplomasi bersama dengan pencegahan jadi pilar utama dari kebijakan yang digariskan Presiden Joe Biden. Mengacu pada Amerika yang tidak memainkan peran dalam perjanjian ini, Tabatabai mengatakan sudah biasa mendengar sentimen anti-Amerika di Iran.

“Payung keamanan bukan lagi ide aktual yang seharusnya dibangun Amerika untuk Arab Saudi dan sekutunya. Jadi ada kebutuhan juga dirasakan di Arab Saudi untuk berpikir dengan cara yang berbeda tentang bagaimana ia dapat mengamankan wilayah, perbatasan, dan keamanannya. minat,” pungkasnya.***MIOL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *