Usai Bentrok, Gerakan Para Kecoak Tantang Pemerintah India

Ragam25 Dilihat

JAKARTA || Demonstrasi yang menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan berujung bentrokan antara ribuan anggota Cockroach Janta Party (CJP) dan Kepolisian Delhi saat massa berupaya menuju parlemen pada Senin (20/7). Aksi tersebut dipicu dugaan kebocoran soal ujian masuk kedokteran (NEET) yang memicu kemarahan jutaan pelajar dan memunculkan tuntutan pertanggungjawaban politik dari pemerintah.

Meski ratusan orang dilaporkan terluka dan puluhan peserta aksi ditahan, CJP menegaskan demonstrasi akan terus berlanjut hingga tuntutan pencopotan Dharmendra Pradhan dipenuhi.

Sehari setelah bentrokan, pendiri CJP Abhijeet Dipke mengunjungi para pendukung yang dirawat di rumah sakit di New Delhi. Melalui media sosial X, ia menyampaikan permintaan maaf kepada para demonstran yang mengalami luka-luka, terutama perempuan yang menurutnya menjadi korban kekerasan aparat.

“Saya meminta maaf kepada seluruh pendukung kami, terutama para perempuan yang dipukuli secara brutal oleh polisi pria. Kami seharusnya bisa berbuat lebih baik. Saya seharusnya bisa melindungi kalian dari tindakan tidak manusiawi polisi Delhi,” tulis Dipke.

Ia juga mengklaim seorang perempuan berada dalam kondisi kritis setelah terkena pukulan tongkat polisi saat aparat membubarkan massa yang berusaha menerobos barikade menuju parlemen. Hingga kini, pihak berwenang belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut.

CJP kemudian membuka pendataan bagi peserta aksi yang ditahan atau sedang menghadapi proses hukum. Kelompok itu menyatakan akan memberikan bantuan hukum kepada para demonstran. Sementara itu, Kepolisian Delhi menyebut sedikitnya 70 orang telah ditahan dan proses hukum sedang dilakukan terhadap mereka.

Kamp protes dibongkar, massa kembali berkumpul di Jantar Mantar
Sehari setelah bentrokan, para demonstran kembali ke kawasan Jantar Mantar, lokasi aksi duduk yang telah mereka tempati selama sekitar satu bulan. Namun, mereka mendapati kamp protes tersebut telah dibongkar oleh aparat.

Meski demikian, CJP menegaskan bahwa aksi tersebut tidak akan dihentikan. “Kami tidak akan mundur,” kata Dipke kepada para pendukungnya.

Juru bicara CJP, Ashutosh Ranka, juga menegaskan bahwa tuntutan mereka tidak berubah. Kami tidak akan berhenti. Pradhan harus dicopot.”

Pada Selasa pagi (21/7), sekitar 150 hingga 200 demonstran kembali berkumpul di lokasi meski hujan gerimis mengguyur New Delhi. Di sisi lain, pengamanan di sekitar Jantar Mantar dan kawasan pusat kota Delhi masih diperketat.

Usai bentrokan, CJP ubah strategi perlawanan
Di tengah meningkatnya ketegangan, CJP memutuskan tidak lagi menggelar mars menuju parlemen. Menurut Dipke, keputusan itu diambil untuk mencegah lebih banyak peserta aksi mengalami luka. “Kami menghentikan aksi kemarin karena tidak ingin lebih banyak anak muda terluka.”

Ia menambahkan bahwa kelompoknya tidak akan kembali mencoba berjalan menuju parlemen. “Kami tidak akan melakukan mars lagi karena polisi akan kembali melukai anak-anak muda.”

Meski membatalkan mars, CJP menegaskan aksi duduk akan tetap berlangsung hingga tuntutan pencopotan Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan dipenuhi.

Bentrokan sehari sebelumnya menyebabkan korban di kedua belah pihak. Berdasarkan data Kepolisian Delhi, sebanyak 118 personel polisi dan 60 demonstran mengalami luka-luka. CJP menuduh aparat melakukan pemukulan secara brutal terhadap peserta aksi, sementara Kepolisian Delhi menyatakan kericuhan dipicu oleh perilaku massa yang disebut “tidak tertib, agresif, dan penuh kekerasan” saat berusaha menerobos barikade menuju parlemen.

Dari julukan “Kecoak” hingga gerakan protes
Nama Cockroach Janta Party (CJP) lahir sebagai bentuk satire terhadap pemerintah India. Julukan “cockroach” atau “kecoak” muncul setelah Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, membandingkan anak muda yang menganggur dengan kecoak dalam sebuah persidangan.

Alih-alih menolak sebutan tersebut, pendiri CJP Abhijeet Dipke justru mengadopsinya sebagai simbol bahwa kelompok yang dipandang rendah tetap mampu bertahan dan bersuara. Nama itu juga menyindir Bharatiya Janata Party (BJP), partai yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi.

Gerakan yang awalnya berkembang di media sosial kemudian meluas menjadi aksi protes terhadap berbagai persoalan yang dihadapi anak muda, termasuk dugaan kebocoran soal ujian masuk kedokteran (NEET).

CJP menilai kasus tersebut mencerminkan buruknya tata kelola sistem pendidikan dan menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan bertanggung jawab secara politik dengan mengundurkan diri. Sejak akhir Juni, kelompok ini menggelar aksi duduk di Jantar Mantar, New Delhi, sebelum upaya mereka menuju parlemen berujung bentrokan dengan aparat kepolisian.***DTK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *