Terima Ulos, Kasmarni Serukan Semangat “Marsipature Hutanabe” Bangun Daerah

Bengkalis18 Dilihat

PEKANBARU || Ulos yang disematkan kepada Bupati Bengkalis Hj. Kasmarni bukan sekadar simbol penghormatan. Di balik kain adat tersebut, terselip pesan tentang persaudaraan, kebersamaan, dan semangat untuk terus berkontribusi bagi daerah.

Pesan itu mengemuka saat Bupati Hj. Kasmarni menghadiri Pesta Puncak Festival Koor AMA Distrik XXII Riau Tahun 2026 di Sapo Godang HKBP Pekanbaru, Sabtu (20/9/2026).

Kehadiran Bupati Bengkalis mendapat sambutan hangat dari para tamu dan keluarga besar HKBP. Dalam suasana penuh kekeluargaan tersebut, panitia menyerahkan ulos kepada Kasmarni sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbol keakraban.

Kasmarni hadir didampingi Ketua Ikatan Keluarga Batak Riau Dr. AB. Purba, Kepala Bapenda Bengkalis Muhammad Thaib, Plt. Kepala Disdik Bengkalis Hadi Prasetyo, Kepala Kesbangpol Bengkalis Suwarto, Kepala Satpol PP Bengkalis H.Alfakhrurrazy, Direktur RSUD Mandau drg. Sylvia Febriani, serta Kepala Dinas Sosial Bengkalis H. Hambali.

Di hadapan keluarga besar HKBP dan peserta festival, Kasmarni mengapresiasi kuatnya semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat Batak yang menurutnya telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Riau.

“Tidak ada lagi jarak antara kita. Kita semua adalah bagian dari masyarakat Riau yang memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga persaudaraan dan membangun daerah,” ujar Kasmarni.

Ia kemudian mengangkat filosofi “marsipature hutanabe”, sebuah semangat untuk memperbaiki, menata, dan membangun kampung atau daerah melalui kontribusi nyata.

Menurut Kasmarni, nilai tersebut sangat relevan dengan semangat pembangunan daerah. Kemajuan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Semangat marsipature hutanabe ini luar biasa. Ketika ada kegiatan, semuanya berbondong-bondong hadir, ikut membantu dan mengambil bagian. Semangat seperti ini perlu terus dijaga untuk memperkuat kekompakan dan kebersamaan,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Kasmarni juga menilai Festival Koor AMA memiliki makna lebih luas dari sekadar kompetisi paduan suara.

Menurutnya, festival tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan talenta, mempererat persaudaraan, sekaligus merawat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.

“Suara yang berbeda, apabila diarahkan pada tujuan yang sama, akan melahirkan harmoni yang indah,” ujarnya.

Ia menyebut prinsip yang sama dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan suku, agama, latar belakang maupun cara pandang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk kita membangun daerah secara bersama-sama.

Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan untuk melahirkan harmoni dan kolaborasi.

Karena itu, Kasmarni berharap semangat marsipature hutanabe tidak berhenti dalam seremoni atau festival, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Mari kita terus berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Apa yang kita lakukan, sekecil apa pun, jika dilakukan bersama dan untuk kepentingan masyarakat, akan menjadi kekuatan besar bagi pembangunan daerah,” ajaknya.

Kepada seluruh peserta Festival Koor AMA, Kasmarni juga berpesan agar kompetisi dijalani dengan menjunjung tinggi sportivitas dan tetap mengedepankan persaudaraan.

“Menang adalah prestasi. Tetapi persaudaraan yang tetap terjaga setelah kompetisi berakhir, itulah kemenangan yang sesungguhnya,” pungkasnya.***INF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *