Marak Kasus Penyimpangan Seks di RI, Jadi Tanda ‘Darurat’ Kesehatan Mental?

Ragam151 Dilihat

JAKARTA || Pakar seks dr Boyke Dian Nugraha mengaku tak habis pikir dengan laporan ibu muda (22) di Tangerang Selatan mencabuli anaknya sendiri, yang masih berusia dua tahun. Perilaku tersebut termasuk parafilia, atau seks menyimpang yang dikategorikan inses serta pedofilia.

Motifnya beragam, mulai dari kelainan seksual hingga faktor ekonomi. Dalam kasus wanita berinisial R di Tangerang Selatan, konon dirinya tega mencabuli anak demi mendapatkan Rp 15 juta yang diiming-imingi akan diberikan seorang kenalan di media sosial, Facebook.

Menurut dr Boyke, fenomena perilaku seks menyimpang yang semakin marak di Indonesia menjadi tanda darurat kesehatan mental. Secara umum, seseorang dengan perilaku normal tidak mungkin melakukan hal demikian dalam kondisi mendesak sekalipun.

“Sudah banyak sekali orang-orang dengan perilaku semakin aneh, semakin hari, ya cucu memperkosa nenek lah, pelecehan yang berawal dari bully, dan lain-lain,” sorotnya, saat dihubungi detikcom Senin (6/3/2024).

“Ini menunjukkan masyarakat kita nih sedang sakit loh, sakit jiwanya, kondisi gawat darurat. Makanya kita menginginkan setiap puskesmas punya dokter jiwa karena banyak sekali puskesmas yang butuh psikolog, orang butuh psikolog,” beber dia.

“Mereka seharusnya dimudahkan dalam berpraktik sebagai psikologi klinis untuk membantu teman-teman, yang dokter, nakes, untuk membantu menyehatkan jiwa mereka, gaungnya di penanganan kesehatan jiwa ini belum terlihat, sementara kita begitu banyak melihat kasus penyimpangan di anak SD, SMP, hingga SMA.”

Pentingnya Edukasi Sebelum Menikah

Berkaca dari kasus ibu muda di Tangsel, persiapan sebelum menikah tentu bukanlah hal yang mudah. Setiap wanita harus dibekali dengan edukasi atau ilmu pernikahan, ilmu parenting, sampai cara bertahan dengan kondisi ekonomi dan lingkungan tertentu.

“Ibu-ibu muda ini harus dapat pendidikan parenting, bagaimana sih mendidik anak, bagaimana sih menyayangi anak, mungkin mereka nggak pernah dapet itu semua di sekolah, juga kesiapan mental dan ekonomi,” tandas dia.

“Jadi kembali lagi kepada pendidikan seks, pendidikan parenting, pendidikan agama, yang harus selalu menjadi dasar pengetahuan seorang ibu ketika menikah, apakah ibu ini mendapatkan itu semua? Saya yakin tidak,” pungkasnya.*DTK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *