TEHERAN || Kepolisian Iran memperingatkan warga untuk tidak turun ke jalanan “atas permintaan musuh” saat perang berkecamuk melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Kepolisian Iran menyatakan bahwa siapa pun yang berunjuk rasa mendukung posisi musuh, akan diperlakukan sebagai musuh, bukan demonstran.
Peringatan tersebut, seperti dilansir AFP dan The Guardian, Rabu (11/3/2026), disampaikan oleh Kepala Kepolisian Nasional Iran, Ahmad-Reza Radan, dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah IRIB pada Selasa (10/3) malam.
“Jika ada yang maju sejalan dengan keinginan musuh, kami tidak akan lagi melihat mereka sebagai demonstran, kami akan melihat mereka sebagai musuh,” kata Radan memperingatkan.
“Dan kami akan melakukan kepada mereka, apa yang kami lakukan kepada musuh. Kami akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama seperti kami memperlakukan musuh,” tegasnya.
“Semua pasukan kami juga siap, dengan jari di pelatuk, siap untuk membela revolusi mereka, mendukung rakyat dan tanah air mereka,” ucap Radan, yang tampaknya merujuk pada tindakan tegas kepolisian terhadap para demonstran.
Radan menambahkan bahwa pasukan keamanan Iran ditempatkan di jalanan “siang dan malam”.
Peringatan ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, dalam pidato-pidato mereka beberapa pekan terakhir, menyerukan kepada warga Iran untuk turun ke jalanan dan menggulingkan rezim yang berkuasa.
AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran sejak 28 Februari lalu. Rentetan serangan itu menewaskan para tokoh pemimpin dan pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei. Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, telah diangkat sebagai penggantinya.
Teheran merespons serangan AS-Israel dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan terhadap negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.***DTK










