Iran Bersikeras Tolak Pembatasan Pengayaan Uraniumnya

Ragam9 Dilihat

TEHERAN || Badan energi nuklir Iran menolak segala pembatasan terhadap pengayaan uranium negara tersebut. Otoritas Iran menegaskan tuntutan Amerika Serikat (AS) dan Israel soal pembatasan pengayaan uranium “tidak akan terwujud”.

Penegasan tersebut, seperti dilansir AFP dan Euronews, Jumat (10/4/2026), disampaikan oleh kepala badan energi nuklir Iran, Mohammad Eslami, dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Iran, ISNA News Agency, pada Kamis (9/4) waktu setempat.

“Klaim dan tuntutan musuh-musuh kita untuk membatasi program pengayaan Iran hanyalah keinginan yang akan terkubur,” kata Eslami dalam pernyataannya.

Pernyataan itu disampaikan menjelang perundingan yang akan berlangsung pada akhir pekan, antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, dengan dimediasi Pakistan.

“Semua konspirasi dan tindakan musuh-musuh kita, termasuk perang brutal ini, tidak membuahkan hasil. Sekarang, mereka berupaya mencapai sesuatu melalui negosiasi,” cetus Eslami.

Isu pengayaan uranium menjadi fokus dalam hubungan negara-negara Barat dengan Iran selama lebih dari dua dekade. AS dan sekutu-sekutunya menuduh Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir, namun Iran selalu bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil.

Presiden AS Donald Trump bersikeras menyatakan “tidak akan ada pengayaan uranium” oleh Iran setelah perang. Dalam pernyataan sebelum perang berkecamuk, dia berargumen bahwa Teheran sedang membangun senjata nuklir — klaim yang tidak didukung oleh badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu yang mengobarkan perang melawan Iran, terjadi ketika Washington dan Teheran sedang terlibat dalam negosiasi yang mencakup program nuklir Iran.

Kemudian dalam perang selama 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025, Tel Aviv dan Washington membombardir fasilitas nuklir Teheran, mengklaim telah menghancurkan kemampuan negara itu untuk melakukan pengayaan uranium.

Meskipun demikian, keberadaan ratusan kilogram uranium yang sangat diperkaya milik Iran tetap tidak diketahui setelah pengeboman tersebut.

Pasokan uranium diperkaya itu diperkirakan terkubur di bawah reruntuhan lokasi yang dibom AS-Israel, dengan Trump menyarankan agar AS dan Iran bekerja sama untuk “menggali dan mengeluarkan semua material nuklir yang terkubur dalam-dalam”.

Sebelum perang pecah tahun lalu, badan pengawas nuklir PBB, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), memperkirakan Iran telah memperkaya uranium hingga 60 persen — jauh di atas batas 3,67 persen yang diizinkan dalam perjanjian nuklir tahun 2025 yang sekarang sudah tidak berlaku.

Angka pengayaan uranium Iran itu mendekati level 90 persen yang dibutuhkan untuk membuat bom nuklir.***DTK