Harga Daging Ayam Mahal Imbas MBG, Bapanas Beri Subsidi Biaya Distribusi

Ekonomi18 Dilihat

JAKARTA || Komoditas daging ayam ras menyumbang inflasi nasional karena peningkatan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa daerah dan juga faktor harga pakan ternak.

Sebagai antisipasi fluktuasi harga yang berlebihan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberikan bantuan kepada pemerintah daerah yang bukan produsen daging ayam ras dan tengah mengalami fluktuasi harga. Bantuan tersebut berupa subsidi biaya angkut dari daerah produsen menjadi solusi yang disiapkan.

“Jadi begini, ini ada kebutuhan semakin banyak, mungkin dalam bulan-bulan terakhir terjadi kenaikan, tapi masih harga yang wajar, masih di batasnya, tidak secara keseluruhan. Di daerah pun masih banyak yang murah. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang mungkin produsen ayamnya kurang,” ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (5/10/2026).

Menurut Hermawan, salah satu kendala yang kerap dihadapi pemerintah daerah dalam upaya stabilisasi harga pangan pokok strategis, yakni biaya angkut distribusi dari luar daerahnya. Apalagi jika daerah tersebut bukan daerah sentra produsen.

“(Untuk) angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah. Bapanas memastikan bahwa mana daerah yang kurang (pasokan) akan disuplai dari daerah-daerah yang produsen. Kita anggaran masih ada,” terang Hermawan.

Untuk diketahui, komoditas daging ayam ras sempat jatuh pada April 2026 dengan mencatatkan deflasi hingga 6,20%. Sebulan kemudian, pada Mei 2026, komoditas tersebut juga kembali deflasi di angka 3,83%. Dampak deflasi tentu saja sangat mempengaruhi peternak unggas dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), indeks harga yang diterima petani unggas mulai menurun setelah Maret 2026 sempat bertengger sangat tinggi di 138,19. Namun April 2026 turun ke 132,22. Mei 2026 kembali turun ke 130,57. Juni dan Juli 2026 masing-masing turun ke 127,23 dan 127,02. Terakhir pada Agustus dan September 2026 kembali menguat menjadi 132,43 dan 134,99.

“Untuk daerah-daerah yang produksinya kecil, kemudian mengalami kenaikan harga, kita imbau supaya pemerintah daerah meminta kepada kami untuk subsidi masalah distribusinya. Mereka terkendala biasanya (karena) distribusinya mahal,” tambah Hermawan.

Dilihat dari segi ketersediaannya, proyeksi stok daging ayam ras sampai akhir 2026 masih dapat mencapai 1 juta ton. Ini berdasarkan stok awal 2026 yang berada di 200 ribu ton ditambahkan estimasi produksi dalam negeri setahun yang diperkirakan 4,7 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi nasional 3,9 juta ton, salah satunya melalui pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan.

Langkah ini juga merupakan pengejawantahan dari arahan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman agar jajarannya dapat terus terus mengawal ketersediaan jagung pakan bagi peternak.

Sebagai informasi, program SPHP jagung pakan 2026 tahap pertama telah dimulai sejak awal Mei lalu. Total kuota salur ditetapkan sebanyak 213,2 ribu ton yang terdiri dari kebutuhan jagung pakan bagi kelompok peternak skala usaha mikro, kecil, dan menengah.

Realisasi salur SPHP jagung pakan per 2 Oktober telah mencapai 71,36 persen dari total target tahap pertama dan kedua yang 241,2 ribu ton. Secara kuantitas sebanyak 172,1 ribu ton telah diakses peternak yang tersebar di 29 provinsi. Daerah dengan jumlah peternak tertinggi adalah Jawa Timur dengan 3.690 peternak dan Jawa Tengah 2.017 peternak.***DTK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *