Harga Bawang Putih Tembus Rp 100 Ribu/Kg Imbas Dolar AS Naik

Ekonomi27 Dilihat

JAKARTA || Harga bawang putih naik di 269 kabupaten/kota atau mencakup 74,72% wilayah Indonesia hingga pekan kedua Juli 2026. Berdasarkan amatan Badan Pusat Statistik (BPS), harganya bahkan telah tembus Rp 100 ribu per kilogram (kg) di wilayah tertentu.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kenaikan harga bawang putih perlu mendapat perhatian. Pasalnya komoditas tersebut mengalami kenaikan harga dengan penyebaran paling luas dibanding komoditas pangan lainnya.

“Bawang putih perlu mendapatkan perhatian secara serius karena sudah ada 269 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga bawang putih,” kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (13/7/2026).

Amalia mengungkapkan rata-rata harga bawang putih secara nasional kini mencapai Rp 42.611 per kg atau jauh di atas harga acuan penjualan (HAP) konsumen. Harga tertinggi tercatat berada di Papua Pegunungan yakni hingga Rp 100 ribu per kg.

Sejumlah daerah yang perlu mendapatkan perhatian karena harga bawang putih sudah jauh di atas HAP yaitu Aceh Selatan dan Gorontalo Utara yang masing-masing mencapai Rp 50 ribu per kg, serta Kabupaten Deiyai, Papua Tengah yang menyentuh Rp 79 ribu per kg.

“Kabupaten Aceh Selatan harganya Rp 50 ribu per kg, perubahan IPH-nya sudah 36,38% dan harga ini 31,6% di atas HAP. Selanjutnya Gorontalo Utara harganya Rp 50 ribu per kg, perubahan IPH-nya 20,98% dan harganya 31,58% di atas HAP. Kalau di Kabupaten Deiyai harganya Rp 79 ribu, dia 107,89% di atas HAP,” ungkap Amalia.

Kenaikan Harga Bawang Putih Imbas Dolar AS Naik
Kenaikan harga tersebut bukan disebabkan minimnya pasokan impor. Volume impor bawang putih justru meningkat, di mana sepanjang Januari-Juni 2026 Indonesia mengimpor 229,76 ribu ton bawang putih atau naik 28,44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Amalia menyebut kenaikan harga bawang putih disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan meningkatnya biaya logistik internasional. Kondisi itu menyebabkan harga bawang putih impor khususnya pada Juni 2026 menjadi relatif lebih mahal.

“Kenaikan harga dari bawang putih salah satunya ada faktor dari pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya biaya logistik internasional,” jelas Amalia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Nawandaru mengatakan biaya logistik internasional melonjak setelah adanya penutupan di Selat Hormuz.

“Pasca adanya krisis Selat Hormuz, kapal-kapal berbendera China diperebutkan banyak negara. Ini menjadi salah satu pemicu kenaikan biaya logistik atau distribusi dari negara produsen, yaitu China, ke Indonesia,” katanya.

Kementerian Perdagangan kini berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri untuk mendorong importir mengarahkan kapal pembawa bawang putih langsung bersandar di pelabuhan-pelabuhan utama di kawasan timur Indonesia.

Langkah itu diharapkan dapat memangkas biaya distribusi sekaligus menekan harga bawang putih di wilayah timur yang saat ini mengalami kenaikan paling tinggi.

“Kami berharap pelaku usaha dapat mengarahkan dropping langsung ke pelabuhan utama di kawasan timur sehingga biaya logistik berkurang dan distribusi ke daerah-daerah yang saat ini mengalami tekanan harga tinggi menjadi lebih efisien,” ujar Nawandaru.***DTK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *