WASHINGTON DC || Agen federal Amerika Serikat (AS) menggeledah rumah anggota DPR dari Partai Demokrat, Ilhan Omar (foto) merupakan kritikus vokal Presiden AS Donald Trump. Penggeledahan itu disebut sebagai bagian dari pengusutan kasus kriminal.
Dilansir Al-Jazeera, Selasa (13/10/2026), rumah Omar yang digeledah itu berada di wilayah Washington DC. Agen dari Homeland Security Investigations (HSI) melakukan penggeledahan tersebut pada Senin (12/10) pagi waktu setempat.
Departemen Kehakiman mengonfirmasi para agen telah melaksanakan surat perintah penggeledahan yang disahkan pengadilan. Namun, Departemen Kehakiman tidak menyebut nama Omar ataupun memberikan rincian mengenai penyelidikan tersebut.
Fox News melaporkan, dengan mengutip sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya, bahwa penggeledahan itu terkait dengan dugaan penipuan imigrasi yang melibatkan dokumen yang diajukan oleh mendiang ayah Omar saat dia masih kecil. Belum ada dakwaan yang diumumkan.
Omar mengecam penggeledahan tersebut dalam sebuah unggahan di media sosial. Dia menuduh pemerintahan Trump menggunakan aparat penegak hukum federal untuk menargetkan lawan-lawan politiknya.
“Saya baik-baik saja. Jangan salah sangka: ini adalah upaya untuk menargetkan musuh politik dan menjadikan penegak hukum federal sebagai senjata,” tulisnya.
“Selama sepuluh tahun, Trump telah menargetkan saya dengan kebohongan tak berdasar dan kampanye fitnah. Ini hanyalah eskalasi terbaru dalam kampanye intimidasi politiknya. Saya tidak akan dibungkam,” sambungnya.
Anggota Kongres kelahiran Somalia tersebut, yang datang ke AS sebagai pengungsi anak-anak dan kemudian menjadi warga negara melalui naturalisasi, mewakili sebuah distrik di negara bagian Minnesota yang mencakup wilayah Minneapolis. Dia telah lama menjadi sasaran serangan politik Trump, khususnya terkait isu imigrasi.
Pada bulan September, kepala keamanan perbatasan Trump, Tom Holman, mengatakan Omar sedang diselidiki dalam kasus pidana. Namun, dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Saat itu, Omar menyatakan bahwa dia belum dihubungi oleh pihak Homeland Security dan menepis tuduhan tersebut sebagai tindakan yang bermotif politik. Wakil Presiden AS JD Vance juga pernah menuduh Omar melakukan penipuan imigrasi di masa lalu tanpa menyertakan bukti.
Dalam sebuah wawancara dengan podcaster konservatif Benny Johnson, Vance mengatakan bahwa dia dan Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller telah membahas cara untuk menyelidiki Omar.
“Bagaimana cara menindak dia? Bagaimana cara menyelidiki dia? Bagaimana sebenarnya melakukan hal itu?” tanya Vance saat dia mempertimbangkan langkah untuk membangun kasus hukum.
Kantor Omar telah menepis tuduhan Vance dengan menyebutnya sebagai tuduhan yang ‘direkayasa dan mencemarkan nama baik’. Penggeledahan ini sendiri terjadi hanya berselang tiga minggu lebih sedikit sebelum pemilihan umum sela pada 3 November, saat Partai Republik akan berjuang mempertahankan kendali atas Kongres.
Omar mengatakan bahwa dia dan keluarganya telah menerima ancaman pembunuhan akibat retorika Trump, dan ia menyebut obsesi Trump terhadap dirinya sebagai hal yang menyeramkan. Pada bulan Desember lalu, Trump menyebut anggota Kongres tersebut dan imigran Somalia lainnya sebagai ‘sampah’.
Pada bulan Februari 2026, Trump mengatakan Omar dan anggota Kongres dari Partai Demokrat, Rashida Tlaib yang juga merupakan Muslim serta termasuk kelompok legislator progresif yang dikenal sebagai ‘The Squad’, seharusnya ‘dimasukkan ke rumah sakit jiwa’ dan dikirim kembali ke ‘tempat asal mereka’.
Serangan Trump itu disampaikan usai mereka mengkritik pidato kenegaraan (State of the Union) Trump. Bulan lalu, seorang pria asal Minnesota dijatuhi hukuman penjara 14 bulan karena menyemprotkan cuka ke arah Omar dalam sebuah pertemuan publik pada bulan Januari atau di tengah masa pengetatan kebijakan imigrasi oleh Trump di Minneapolis, di mana saat itu Omar menyerukan pembubaran badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE).***DTK











