Tradisi Corat-coret Baju Kelulusan Menjadi Tren di Kalangan Pelajar

Ragam33 Dilihat

TRADISI corat-coret baju seragam saat kelulusan telah menjadi pemandangan yang umum di berbagai daerah di Indonesia. Setiap tahun, setelah pengumuman kelulusan sekolah menengah, banyak pelajar merayakannya dengan menuliskan tanda tangan, pesan, maupun gambar pada seragam yang selama ini mereka kenakan. Kegiatan tersebut dianggap sebagai simbol berakhirnya masa sekolah dan awal memasuki jenjang kehidupan berikutnya.

Bagi sebagian pelajar, corat-coret baju memiliki nilai emosional yang cukup tinggi. Seragam yang penuh tulisan teman-teman dianggap sebagai kenang-kenangan yang menyimpan banyak cerita selama menempuh pendidikan. Tidak sedikit siswa yang menyimpan seragam tersebut sebagai bentuk nostalgia terhadap masa-masa sekolah yang tidak akan terulang kembali.

Fenomena ini kemudian berkembang menjadi sebuah tren yang hampir selalu muncul setiap musim kelulusan. Bahkan, di beberapa sekolah, para siswa telah merencanakan kegiatan corat-coret jauh sebelum pengumuman kelulusan diumumkan. Mereka membawa spidol warna-warni dan berkumpul di lokasi tertentu untuk merayakan keberhasilan menyelesaikan pendidikan.

Meski demikian, tradisi corat-coret baju kelulusan sering menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat. Sebagian pihak menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan yang wajar dilakukan oleh remaja. Namun, tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai tindakan yang kurang tepat karena dapat mengurangi makna kesederhanaan dan rasa syukur atas kelulusan yang diraih.

Selain itu, aksi corat-coret kerap disertai dengan konvoi kendaraan di jalan raya yang berpotensi mengganggu ketertiban umum. Dalam beberapa kasus, perayaan yang berlebihan bahkan menimbulkan kemacetan serta membahayakan keselamatan para pelajar maupun pengguna jalan lainnya. Oleh karena itu, banyak sekolah dan aparat keamanan mengimbau agar perayaan kelulusan dilakukan secara tertib dan bertanggung jawab.

Dari sisi sosial, tradisi corat-coret juga menimbulkan pertanyaan mengenai pemanfaatan seragam sekolah yang masih layak pakai. Banyak pihak berpendapat bahwa seragam tersebut seharusnya dapat disumbangkan kepada siswa lain yang membutuhkan. Dengan demikian, kebahagiaan kelulusan tidak hanya dirasakan oleh para siswa yang lulus, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat yang kurang mampu.

Sejumlah sekolah mulai menawarkan alternatif perayaan yang lebih bermanfaat. Beberapa di antaranya mengadakan kegiatan bakti sosial, donor darah, penanaman pohon, hingga pengumpulan seragam bekas untuk disalurkan kepada pelajar dari keluarga kurang mampu. Kegiatan semacam ini dinilai mampu menumbuhkan rasa kepedulian sosial sekaligus memberikan makna yang lebih mendalam terhadap momen kelulusan.

Perkembangan media sosial juga turut memengaruhi popularitas tradisi corat-coret baju kelulusan. Banyak pelajar mengunggah foto dan video perayaan mereka ke berbagai platform digital. Akibatnya, tradisi tersebut semakin dikenal dan ditiru oleh generasi berikutnya. Di sisi lain, media sosial juga menjadi sarana untuk mengampanyekan bentuk perayaan yang lebih positif dan edukatif.

Pada dasarnya, setiap pelajar memiliki hak untuk merayakan keberhasilan mereka setelah menempuh proses belajar yang panjang. Kelulusan merupakan pencapaian penting yang layak disyukuri. Namun, cara merayakannya perlu mempertimbangkan norma sosial, keselamatan, serta dampaknya bagi lingkungan sekitar agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Tradisi corat-coret baju kelulusan kemungkinan akan tetap menjadi bagian dari budaya pelajar Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kepedulian sosial dan ketertiban umum, diharapkan muncul bentuk-bentuk perayaan yang lebih kreatif, bermanfaat, dan bermakna. Dengan demikian, momen kelulusan tidak hanya menjadi ajang kegembiraan, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan nilai-nilai positif bagi generasi muda.***ASW