Saran Pakar untuk RI di Tengah Iran dan AS Kian Memanas

Ragam42 Dilihat

JAKARTA || Tensi hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin meruncing. Peluang perang di antara kedua negara ini juga terus mendekati kenyataan.

Pakar hubungan internasional, Teuku Rezasyah, mengatakan perang Iran dan AS sulit dihindarkan. Amerika saat ini juga telah mengirimkan dua kapal induknya ke kawasan Timur Tengah sebagai tanda konfliknya dengan Iran sudah di tahap serius.

“Perang terbuka diperkirakan dapat terjadi setiap saat. Dalam skenario AS, Iran telah ditempatkan sebagai sebuah bola dalam meja bilyard, yang dapat ditaklukkan dengan mudah. Iran diperkirakan tidak akan takluk dan akan konsisten mempertahankan haknya memperkaya uranium yang terus diprosesnya secara rahasia guna tujuan damai,” kata Teuku saat dihubungi, Senin (23/2/2026).

Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjajaran ini menilai gesekan Iran dan AS akan berdampak pada stabilitas di kawasan Timur Tengah. Dia meyakini Iran akan mengambil posisi bertahan dalam konflik dengan AS, namun juga telah menyiapkan rudal balistik yang siap diarahkan ke pangkalan-pangkalan militer AS.

“Bagi Iran, perang ini adalah suci. Karena mempertahankan maruah Islam dan menjaga kredibilitas Republik Islam Iran, melawan Amerika Serikat yang dalam pandangan Iran adalah setan besar, atau syaitanul akbar yang sangat merusak perdamaian dunia,” katanya.

Lalu, bagaimana sikap ideal yang harus diambil Indonesia?

Teuku mengatakan Indonesia harus berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Pemerintah Indonesia wajib netral dan tidak berpihak jika perang Iran dan AS benar-benar Meletus.

Indonesia juga harus mampu mengamankan ruang-ruang udara, darat, dan laut di seluruh wilayahnya jika Iran dan AS berperang. Pengetatan wilayah itu diharapkan mampu mencegah adanya spionase atau penyelundupan senjata.

“RI dengan sumber dayanya yang terbatas segera mengendalikan ruang-ruang udara, darat, dan laut di seluruh wilayah nasional RI. Sehingga terbebaskan dari penyusupan sipil bersenjata, penyelundupan senjata, spionase di perbatasan, dan perang elektronik,” jelas Teuku.

Menurut Teuku, Indonesia juga harus berani mengambil inisiatif di jalur diplomasi saat perang AS dan Iran berkecamuk. Dorongan segera digelarnya sidang istimewa Dewan Keamanan PBB harus berani diambil Indonesia.

Lebih lanjut, pemerintah Indonesia harus memperkuat sistem keamanan nasional. Hal itu dilakukan agar wilayah Indonesia tidak menjadi sasaran baru bagi pihak yang ingin memperluas perang.

“RI menyelenggarakan sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta, dengan melibatkan TNI, Polri, Komcad, rakyat terlatih dan pertahanan sipil. Tujuannya adalah mencegah dijadikannya RI sebagai target baru oleh pihak-pihak mana pun yang ingin memperluas medan perang dengan melibatkan Indonesia,” pungkas Teuku.***DTK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *