Rusia Akan Gencarkan Serangan ke Ukraina, Serukan Warga Asing Pergi!

Ragam24 Dilihat

JAKARTA || Makin panas! Pemerintah Rusia mengatakan bahwa mereka berencana untuk melancarkan lebih banyak serangan ke Kyiv, ibu kota Ukraina, termasuk ke “pusat pengambilan keputusan”-nya. Rusia pun mengulangi seruan kepada warga negara asing dan diplomat untuk meninggalkan kota tersebut.

Rusia telah meluncurkan puluhan drone dan rudal ke Ukraina selama akhir pekan lalu, menewaskan empat orang, melukai puluhan lainnya, dan menyebabkan kerusakan di seluruh Kyiv.

Di antara senjata yang digunakan Rusia adalah rudal hipersonik Oreshnik, yang dapat melaju 10 kali kecepatan suara dan mampu membawa hulu ledak nuklir, menurut Moskow.

Serangan tersebut terjadi beberapa hari setelah Rusia menuduh Kyiv menyerang sekolah kejuruan di wilayah Luhansk yang diduduki Rusia, menewaskan 21 orang. Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan militernya untuk membalas serangan tersebut.

“Dalam keadaan saat ini, Angkatan Bersenjata Rusia mulai melancarkan serangan sistematis terhadap fasilitas industri militer Ukraina di Kyiv,” kata kementerian luar negeri Rusia dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AFP, Selasa (26/5/2026).

“Serangan akan menargetkan pusat pengambilan keputusan dan pos komando… Kami memperingatkan warga negara asing, termasuk personel misi diplomatik dan organisasi internasional, untuk meninggalkan kota itu sesegera mungkin,” tambahnya.

Menanggapi itu, pemerintah Ukraina menyebut ancaman Rusia sebagai “retorika.”

“Kami sekarang memberi tahu mitra kami bahwa mereka tidak boleh menyerah pada semua pemerasan Rusia ini,” kata Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha.

Sebelumnya, Rusia telah menyerukan warga negara asing dan diplomat untuk meninggalkan Kyiv awal bulan in. Seruan itu disampaikan ketika Rusia mengancam serangan besar-besaran di jantung kota Kyiv, jika Ukraina mengganggu parade militer di Lapangan Merah.

Rusia mulai melancarkan serangan skala penuhnya terhadap Ukraina pada Februari 2022. Konflik tersebut sejak itu telah meningkat menjadi konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.***DTK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *