Rupiah Diramal Sulit Tekuk Dolar AS Balik ke Bawah Rp 17.000

Ekonomi58 Dilihat

JAKARTA || Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) semakin menggencet rupiah. Per Jumat, nilai tukar dolar AS sudah menyentuh level tertingginya pada kisaran Rp 17.600-an, dan pada sore hari berada di Rp 17.596.

Sejauh ini pelemahan rupiah terjadi menjauhi target nilai tukar yang ditetapkan pada asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Nilai tukar dolar AS ditetapkan paling tinggi di APBN 2026 sebesar Rp 16.500.

Menurut Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad, dolar AS akan sangat sulit turun di bawah level Rp 17.000. Dia menilai nilai tukar dolar AS terhadap rupiah di kisaran Rp 17.000-an telah menjadi level keseimbangan baru.

“Saya melihat memang kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sulit ya. Ini ada angka kesimbangan baru begitu ya. Ada angka kesimbangan baru Rp 17.000 ya,” ujar Tauhid kepada detikcom dalam sesi detikSore, ditulis Jumat (15/5/2026).

Dia mengatakan sejauh ini pengalaman Bank Indonesia (BI) melakukan operasi moneter atau upaya-upaya stabilisasi rupiah, mengurangi angka Rp 500 pada nilai tukar dolar AS membutuhkan waktu lebih panjang dan relatif lebih sulit. Menurutnya, penguatan nilai tukar rupiah setidaknya akan berada di level Rp 17.000-17.200 per dolar AS.

“Tapi saya yakin ya masih bisa mendekati angka Rp 17.000 itu memungkinkan apakah Rp 17.100 atau Rp 17.200 begitu, tapi ini lagi-lagi butuh dukungan, 7 langkah yang dilakukan bank sentral itu harus benar-benar efektif,” papar Tauhid.

Tauhid menilai seharusnya memang pemerintah mulai mengubah asumsi makro dalam APBN 2026. Sebab target-target yang ditetapkan sudah berada jauh dari kenyataan, misalnya saja nilai tukar yang mencapai Rp 17.500 dari target Rp 16.500.

Bila mengubah APBN tak mau dilakukan, Tauhid meminta setidaknya ada penyampaian kerangka fiskal yang jelas dan transparan hingga akhir tahun untuk menjaga kepercayaan investor.

“Paling tidak pemerintah menyampaikan kerangka fiskal sampai akhir tahun, sehingga para investor, pelaku bisnis dan sebagainya bisa membaca arah penjelasan fiskal dan lebih yakin ya,” beber Tauhid.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong juga menyatakan saat ini nampaknya sulit untuk rupiah bisa menguat dan mencapai target APBN. Lukman melihat faktor eksternal yaitu gonjang-ganjing situasi geopolitik dunia menjadi alasan utama rupiah melemah, salah satunya kenaikan harga minyak dunia yang terjadi imbas gangguan pasok setelah AS dan Irsn berperang.

“Semua bisa terjadi (penguatan signifikan rupiah terhadap dolar AS) apabila perang Iran-AS berakhir atau selat Hormuz dibuka dan harga minyak turun kembali ke level semula,” beber Lukman kepada detikcom.

Di dalam negeri, Lukman memaparkan beberapa sentimen negatif membuat investor ragu dan mengeluarkan modalnya le luar negeri mencari tempat yang aman, misalnya sentimen pengelolaan APBN yang terlalu ekstrem hingga membuat defisit mendekati level 3%. Kemudian polemik yang terjadi di pasar modal juga mengganggu kepercayaan investor dan membawa kabur modalnya yang memicu pelemahan nilai tukar rupiah juga.

“Pemerintah perlu mengurangi anggaran non-esensial dan BI perlu menaikkan suku bunga,” tegas Lukman.***DTK