Respons Keras Iran soal Trump Mau Blokir Selat Hormuz: Siap Hajar Balik!

Ragam14 Dilihat

JAKARTA || Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokir semua kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz. Hal ini disampaikan Trump setelah Iran menolak berhenti untuk mengembangkan nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz selama perundingan damai di Pakistan.

Menanggapi hal ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut setiap kapal militer AS yang mendekati Selat Hormuz secara langsung melanggar gencatan senjata AS-Iran yang seharusnya berlaku hingga 22 April. Oleh karena itu mereka mengancam akan menindak tegas setiap kapal militer yang melewati kawasan tersebut dengan kekuatan penuh.

“Jika musuh tidak mengerti, kami akan membuat mereka mengerti,” kata seorang anggota divisi kedirgantaraan IRGC yang mengenakan pakaian militer dan masker hitam untuk menyembunyikan identitasnya melalui siaran televisi pemerintah seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (13/4/2026).

IRGC juga menolak laporan militer AS yang mengatakan bahwa dua kapal perang milik Negeri Paman Sam berhasil melewati Selat Hormuz sebagai persiapan untuk operasi pembersihan ranjau laut yang menghalangi jalur air strategis tersebut.

Di sisi lain, pernyataan IRGC ini turut mendapat dukungan dari anggota parlemen Iran yang didominasi oleh kelompok garis keras. Bahkan mereka berpendapat bahwa ancaman Trump yang ingin menutup Selat Hormuz hanyalah omong kosong.

“Apa yang dia (Trump) katakan setelah negosiasi hanyalah omong kosong. Dia hanya mengungkapkan keinginannya secara terang-terangan,” kata Ebrahim Azizi, kepala komisi keamanan nasional parlemen Iran.

Di luar itu, banyak masyarakat Iran juga berpendapat bahwa AS tidak dalam posisi untuk mendikte bagaimana negara mereka harus berperilaku atau untuk memilih kapal mana yang boleh lewat di Selat Hormuz.

“Jika blokade ini menjadi pertarungan antara ketahanan Republik Islam dan ketahanan pasar global, tidak akan lama lagi kita akan melihat siapa yang kalah. Iran siap untuk perang yang berkepanjangan,” kata Zohreh Kharazmi, seorang profesor madya di Universitas Teheran.

“Secara teknis, mereka (AS) tidak dapat mengendalikan situasi. Dengan strategi ala Hollywood, mereka tidak akan bisa menang di medan pertempuran ini,” sambungnya.

Imbas Eskalasi Perang Iran
Harga minyak melonjak tajam menyusul pengumuman Trump tentang blokade angkatan laut terhadap Iran. Minyak mentah Brent yang kerap menjadi patokan harga internasional, naik lebih dari 8% pada hari Minggu (12/4) hingga menembus angka US$ 103 per barel.

Harga minyak global saat ini memang sedang mengalami fluktuasi yang sangat besar sejak serangan AS-Israel terhadap Iran, mendorong Teheran untuk memberlakukan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam global.

Setelah mencapai angka tertinggi US$ 119 per barel pada Maret kemarin, harga minyak mentah Brent sempat turun di bawah US$ 92 per barel pada akhir pekan lalu setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu.

Selain pengaruhi harga minyak global, pasar saham utama di Asia dibuka lebih rendah hari ini, Senin (13/4), karena ancaman blokade Trump memicu ketidakpastian di lantai perdagangan.

Indeks acuan Jepang Nikkei 225 tercatat telah turun 0,9% dalam perdagangan pagi ini waktu setempat. Sementara indeks KOSPI di Korea Selatan sudah turun lebih dari 1%.

Kontrak berjangka saham AS yang diperdagangkan di luar jam pasar reguler juga tercatat turun, dengan kontrak berjangka yang terkait dengan indeks acuan S&P 500 turun sekitar 0,8%.***DTK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *