Luhut soal Pertemuan dengan MSCI: Dia Bilang Bukan Hanya RI yang Nakal

Ekonomi16 Dilihat

JAKARTA || Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyebut praktik nakal dalam investasi saham tidak hanya terjadi di pasar modal Indonesia. Aksi tersebut juga sempat menjamur di pasar modal India.

Hal itu diungkap Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan. Adapun pernyataan tersebut diungkap MSCI saat bertemu Luhut beberapa waktu lalu.

“Dia juga bilang, sebenarnya bukan hanya di Indonesia saja yang nakal seperti ini, di mana itu ada India misalnya,” ungkap Luhut dalam acara Dinamika Ekonomi Global dan Nasional di Kantor DEN, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Meski begitu, India disebut telah melakukan reformasi di pasar modalnya. Luhut mengatakan, reformasi di negara tersebut berhasil mendatangkan investasi hingga US$ 60 miliar hingga US$ 70 miliar.

“Nah pertanyaannya, kalau India bisa, masa kita nggak bisa? Apa sih bedanya India dengan kita? Apa bedanya? Banyak orang pinter-pinter di Republik ini kok,” tegasnya.

Luhut mengaku akan melaporkan rencana reformasi pasar modal ke Presiden Prabowo Subianto. Melalui reformasi ini, pasar modal diharapkan bisa lebih transparan.

Ia menambahkan, reformasi pasar modal yang tengah dilakukan pemerintah mencakup pergantian sumber daya manusia (SDM) yang lebih muda dan tidak mudah disogok. Selain itu, pemerintah juga akan menerapkan AI untuk menghindari aksi manipulasi.

“Saya bilang sama dia, kita mau reform, kita ada usul ke Presiden supaya kapital market ini di-reform. Manusianya dicari yang muda, yang sekalian cari dari yang muda, yang paham uang, yang sulit untuk disogok-sogok dan digunakan AI, berbasis AI, supaya makin sulit untuk dipermainkan,” imbuhnya.

Sebagai informasi, MSCI saat ini telah menetapkan sejumlah perubahan indeks review bagi saham Indonesia pada Februari. Pertama pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).

Kedua, pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Dalam pengumumannya, MSCI menyebut ketetapan ini dilakukan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability). Ketetapan ini juga sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk menghadirkan perbaikan transparansi.

Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia. Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emergen MSCI untuk semua sekuritas Indonesia dan potensi reklasifikasi Indonesia dari status Emerging Market ke Frontier Market.***DTK