Ketum Federasi Iran Ungkap Kronologi Timnas Putri ‘Tertahan’ di Australia

Olahraga13 Dilihat

TEHERAN || Beberapa pemain Timnas Putri Iran disebut memilih bertahan di Australia usai berlaga di Piala Asia 2026. Ketua Federasi Mehdi Taj mengungkap kronologinya.

Timnas Putri Iran sempat menolak menyanyikan lagu kebangsaannya. Hal itu membuat Iranian lionesses kabarnya dicap pengkhianat, sehingga beberapa pemain ketakutan untuk pulang.

Aksi tolak menyanyikan lagu kebangsaan itu dilakukan pemain saat pemerintahnya sedang bergejolak. Iran saat ini tengah berperang melawan Amerika Serikat dan Israel, yang berusaha menggulingkan rezim Khamenei.

Lima pemain kemudian dikabarkan meminta suaka ke Australia, yang langsung disambut pemerintah setempat. Dua pemain lain kemudian dikabarkan menyusul mendapat suaka.

Sementara yang lain bisa pulang kembali ke Iran dengan terbang dari Sydney ke Kuala Lumpur, Malaysia. Namun dalam prosesnya, busnya sempat dicegat banyak orang di jalan, mendesak pemain lain juga bertahan di Australia.

Mehdi Taj kemudian angkat suara soal itu. Ia menyebut para pemain Timnas Putri Iran sempat ditahan polisi Australia, dan mengecam keras Amerika Serikat yang ikut campur soal itu.

“Tim nasional wanita kami menyanyikan lagu kebangsaan dan memberikan hormat militer dalam pertandingan-pertandingan ini, tetapi sayangnya, setelah laga berakhir, polisi Australia campur tangan. Menurut laporan yang kami terima, mereka bahkan membawa satu atau dua pemain keluar dari hotel. Mereka juga tidak mengizinkan orang-orang yang seharusnya berbicara dengan para pemain untuk meninggalkan hotel,” katanya, mengutip WANA.

“Saya tidak tahu sejauh mana pengabdian Presiden AS terhadap tim nasional wanita kami, sehingga dia berkali-kali bicara soal mereka. Salah satu kicauannya mengatakan semua anggota tim harus mencari suaka, dan kami (AS) menyambut hal itu. Dia bahkan memperingatkan Australia bahwa jika tidak memberikan suaka kepada lima pemain ini, saya akan secara pribadi mengizinkan suaka mereka di AS.”

“Dia adalah orang yang sama yang membunuh 165 gadis kami di Minab, dan dalam kasus ini, mereka juga menahan gadis-gadis kami sebagai sandera. Saat ini, tim wanita kami sedang dalam perjalanan dari Sydney ke Kuala Lumpur, tetapi di gerbang, mereka menghentikan anggota tim dan mengatakan, ‘Kalian harus mengajukan suaka!” katanya.

Australia, lewat Menteri Dalam Negeri Tony Burke, membantah adanya paksaan kepada Timnas Putri Iran untuk bertahan. Ia menekankan Australia cuma menawarkan perlindungan, dan semua keputusan diserahkan kembali pada individu masing-masing

“Tujuan Australia di sini bukanlah untuk memaksa orang membuat keputusan tertentu. Kami bukan negara seperti itu,” kata Mr Burke mengutip ABC.

“Saya memberikan tawaran yang sama kepada mereka seperti yang saya berikan kepada lima pemain pada malam sebelumnya, yaitu jika mereka ingin menerima visa kemanusiaan untuk Australia. Saya sudah menyiapkan dokumen untuk mengurusnya segera,” katanya.***DTK