BI Ramal The Fed Naikkan Bunga Lagi, Berdampak ke RI?

Ekonomi9 Dilihat

JAKARTA || Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) alias Federal Reserve (The Fed) masih akan menaikkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate/FFR) pada kuartal IV tahun ini.

Arah kebijakan tersebut dipengaruhi dinamika harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu terakhir. Destry mengatakan, harga minyak dunia sempat melonjak hingga US$ 125,53 per barel.

“Ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata Agustus 2026 yang berada di kisaran US$ 90,88 per barel,” ungkap Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/9/2026).

Selain itu, inflasi global juga naik menjadi 4,6% imbas dinamika yang terjadi. Hal ini yang mendorong bank sentral global memperketat arah kebijakannya, salah satunya The Fed.

“Seperti kita ketahui belum lama ini The Fed juga menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis point dan kami masih memperkirakan akan ada kenaikan 1 kali lagi di Triwulan IV,” jelas Destry.

Kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan akan berdampak pada penguatan nilai tukar dolar AS terhadap mayoritas mata uang negara-negara Asia. Tak terkecuali mata uang Rupiah milik Indonesia.

Bahkan ia menyebut, keadaan tersebut memicu perpindahan arus modal asing dari negara Emerging Markets ke Developed Countries seperti AS. Indonesia sendiri selama ini merupakan negara yang masuk dalam golongan Emerging Markets.

“Ini mendorong penguatan pada dolar terhadap mata uang kuat lainnya dimana DXY mencapai 101,11 dan untuk negara Asia mencapai 96,26. Dan yang paling terasa adalah pelarian arus modal dari Emerging Markets kembali kepada Developed Countries, khususnya terhadap di Amerika Serikat,” pungkas Destry.***DTK