Bank Dunia: Porsi Pekerja Kelas Menengah RI Turun dari 14.5% Jadi 7%

Ekonomi53 Dilihat

JAKARTA || Bank Dunia (World Bank) memberikan peringatan terhadap kondisi kelas menengah Indonesia. Meski pasar tenaga kerja sudah mengalami perbaikan, kualitas lapangan kerja dinilai masih menjadi masalah struktural.

Catatan itu tertuang dalam laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026. Sebanyak 1,9 juta lapangan kerja baru berhasil diciptakan selama periode Agustus 2024-2025 dan tingkat pengangguran sedikit menurun menjadi 4,9%, namun hampir separuh dari lapangan kerja baru tersebut berasal dari sektor-sektor dengan tingkat produktivitas lebih rendah.

“Hampir separuh dari lapangan kerja baru tersebut berasal dari sektor-sektor dengan tingkat produktivitas lebih rendah seperti pertanian dan akomodasi/jasa makanan. Di sisi lain, sektor-sektor berketerampilan lebih tinggi seperti jasa keuangan, justru stagnan atau mengalami kontraksi,” tulis laporan Bank Dunia dikutip Jumat (12/6/2026).

Selain itu, Bank Dunia juga menyoroti tingkat pengangguran terselubung yakni pekerja yang bekerja dengan jam kerja lebih sedikit daripada yang diharapkan. Jumlahnya terus meningkat secara bertahap sejak 2022 hingga mencapai 32,7%.

“Kondisi ini menunjukkan kelemahan mendasar dari segi kualitas pekerjaan,” jelas Bank Dunia.

Upah riil untuk pekerja berketerampilan menengah dan tinggi sudah turun sekitar 1-2% per tahun sejak 2018.

“Di sisi lain, proporsi pekerja yang memperoleh pendapatan kelas menengah turun tajam dari 14,5% pada 2018 menjadi sekitar 7% pada 2025,” tulis Bank Dunia.

Kondisi itu disebabkan oleh minimnya lapangan kerja formal bergaji layak dan penurunan upah riil sehingga memicu penurunan status ekonomi kelas menengah menjadi kelompok rentan miskin (menuju kelas menengah).

“Tren-tren ini menggarisbawahi ketidaksesuaian struktural yang terjadi, di mana sektor perekonomian menciptakan lapangan kerja baru, tetapi jumlah lapangan kerja produktif dan berupah tinggi yang dibutuhkan untuk mendukung mobilitas sosial ke atas dan memperluas kelas menengah masih belum memadai,” imbuh Bank Dunia.***DTK