WASHINGTON DC || Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya memanfaatkan krisis migran yang terjadi di Ceuta, kota otonom Spanyol di Afrika Utara, untuk kepentingan politik. Trump menyebut situasi krisis migran tersebut menjadi peringatan bagi AS jika lawan-lawan politiknya berkuasa.
Presiden AS ini menyebut situasi di Ceuta “mengerikan” dan “seperti sebuah invasi”.
“Itu mengerikan. Ingatlah gambar tersebut. Seperti itulah nasib kita dalam tiga tahun ke depan jika pihak yang salah berkuasa,” kata Trump seperti dikutip media Fox News dan dilansir AFP, Sabtu (1/8/2026).
“Jika Partai Demokrat yang berkuasa, Anda tidak akan memiliki kehidupan yang sangat baik,” ucapnya memperingatkan rakyat AS.
Trump kembali mengomentari krisis migran Spanyol itu saat menghadiri rapat kabinet di Camp David, Maryland, pada Jumat (31/7). Dia memperingatkan bahwa AS berisiko menghadapi krisis serupa di wilayah-wilayah pesisirnya
“Saya melihat situasi Spanyol kemarin, dan saya menyaksikan bencana yang terjadi di sana,” ujar Presiden AS tersebut.
“Itu tampak seperti sebuah invasi ke suatu negara oleh ratusan ribu orang, dan hal yang sama akan terjadi pada kita jika Partai Republik tidak terpilih, bahkan lebih buruk dan dalam skala yang jauh lebih besar,” ucapnya.
Wakil Presiden AS JD Vance juga memberikan komentarnya, dengan memposting tayangan berita membahas krisis migran di Ceuta sembari memperingatkan bahwa hal itu menyoroti “kebijakan globalis sayap kiri radikal yang telah memicu invasi terhadap Barat”.
“Gambar-gambar dari Spanyol ini menjadi pengingat yang menyedihkan akan konsekuensi dari migrasi massal,” sebut Vance via media sosial X.
Gedung Putih, dalam pernyataan terpisah, juga berfokus mengaitkan situasi di Ceuta dengan kebijakan keras imigrasi yang menjadi ciri khas Trump di dalam negeri.
Dengan hasil jajak pendapat menunjukkan dukungan bagi Trump merosot ke angka 30 persen, dan Partai Demokrat bertekad merebut kendali atas DPR AS dalam pemilu sela pada November mendatang, krisis migran ini memberikan peluang bagi Partai Republik untuk mengangkat kembali isu andalan politik mereka.
Kemenangan Trump atas Kamala Harris dalam pilpres tahun 2024 sebagian didorong oleh kekhawatiran pemilih mengenai migrasi tak terkendali di perbatasan AS-Meksiko. Pada saat itu, Trump memperingatkan bahwa para migran datang untuk membunuh warga Amerika dan bahkan memangsa hewan peliharaan mereka.
Sementara Departemen Luar Negeri AS, dalam komentarnya, menyalahkan kebijakan pemerintah Spanyol atas krisis migran di Ceuta.
“Insiden yang tidak dapat diterima ini merupakan akibat langsung dari upaya sengaja pemerintah Spanyol untuk memungkinkan dan memfasilitasi migrasi ilegal massal ke Eropa,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Penyerbuan Massal Migran Ilegal ke Ceuta Renggut 57 Nyawa
Otoritas Spanyol, seperti dilansir Reuters dan Anadolu Agency, mengatakan bahwa sebagian besar dari lebih dari 50.000 migran ilegal yang dalam beberapa hari terakhir nekat menyeberangi perbatasan melalui jalur darat dan jalur laut. Kini sebagian besar dari mereka telah kembali secara sukarela ke wilayah Maroko.
Perwakilan pemerintah Spanyol di Ceuta melaporkan bahwa sedikitnya 57 jenazah telah ditemukan di sisi perbatasan Spanyol, dan kemungkinan terdapat korban jiwa tambahan di sisi perbatasan Maroko.
Otoritas setempat menyebutkan bahwa beberapa orang diduga tewas tenggelam saat nekat berenang untuk mencapai area Ceuta dari Maroko, dan sebagian lainnya tewas akibat terhimpit saat berusaha memanjat bebatuan pemecah gelombang yang menjadi lokasi pagar perbatasan.***DTK










