3 Desember 2019

Perang Uhud dan Heroiknya Para Sahabat Jadi Perisai Nabi Muhammad


PERANG Uhud yang terjadi pada pertengahan Syawal tahun ke-3 Hijrah kurang lebih 1.376 tahun lalu nyaris membuat tentara Islam kalah dari pasukan Quraisy. Musabab pasukan pemanah mengabaikan perintah Nabi Muhammad SAW, kemenangan yang sudah di depan mata berbalik menjadi petaka. Bahkan Rasulullah pun sempat terluka. Seperti apa kisahnya?

Syahdan. Di antara kelebatan pedang dan gemuruh pasukan dari dua kubu yang bertempur di Gunung Uhud, terlihat dua sosok dengan busana putih yang trengginas bergerak. Tangan kanan mengayunkan pedang, tangan kiri mendorong perisai besi.

Mereka adalah Nusaibah dan Ummu Sulaim. Dua perempuan yang tak lagi muda tapi ikut terjun ke kancah Perang Uhud bersama 700 tentara Islam. Saat tentara Islam terdesak, Nusaibah dan Ummu Sulaim bersama puluhan tentara Islam tersisa, mereka menjadi perisai untuk melindungi Nabi Muhammad SAW dari serangan tentara Quraisy.

Tangan kanan Nusaibah mengayunkan pedang ke arah lawan. Sedang tangan kiri mengangkat perisai besi menangkis serangan musuh. Tak jauh darinya Ummu Sulaim melakukan hal serupa. Kedua perempuan itu seperti tak lagi merasakan sakit. Padahal tubuh mereka penuh luka akibat sabetan pedang lawan.

Busana putih yang mereka kenakan sudah berubah warna menjadi merah karena darah. Jubah mereka sobek di sana sini dan nyaris tak berbentuk. Tapi keduanya tetap trengginas menjadi bagian dari perisai hidup bagi Nabi Muhammad SAW. Aksi mereka menggetarkan lawan di Perang Uhud.

Tak ketinggalan para sahabat, seperti: Ali bin Abi Thalib, Zubair, Thalhah, Abu Dujana dan lainnya menjaga Rasulullah SAW dari serangan pasukan Quraisy. Di tengah penjagaan para sahabat, Rasulullah tak diam. Putra Abdullah bin Abdul Muthalib itu memberikan intruksi kepada para tentara Islam.

Di saat pasukan Islam kian terdesak, senjata anak panah makin habis, jumlah tentara juga tinggal sisa-sisa, seorang tentara Quraisy bernama Ibnu Qamiah mencoba mendekati posisi Nabi Muhammad SAW. “Mana Muhammad, mana Muhammad?. Aku tak mau hidup selama dia masih hidup,” teriak Qamiah.

Begitu mengetahui keberadan Nabi Muhammad, Qamiah memacu kencang kudanya sambil mengayunkan pedang dengan kekuatan penuh. Thalhah yang mengetahui Rasulullah terancam bergegas melompat ke depan tangannya menghadang pedang Qamiah. Walhasil, sejumlah jari Thalhah putus terkena sabetan pedang.

Terhalang tangan Thalhah, pedang Qamiah berhasil menyerempet topi baja Nabi Muhammad SAW. Pelipis cucu Abdul Muthalib itu terluka. Pada ayunan berikutnya pedang itu membentur topi baja Rasulullah dan membuat sang penghulu Rasul itu roboh, pingsan.

Melihat itu, Ibn Qamiah gembira karena merasa berhasil mengakhiri hidup Rasulullah SAW. Dia pun meninggalkan pasukan Muslim dan kembali ke tentara Quraisy untuk mengabarkan bahwa Nabi Muhammad telah wafat dalam Perang Uhud.

Setelah kepergian Ibn Qamiah, Rasulullah sadar dari pingsannya. Namun wajahnya penuh luka. Pecahan-pecahan logam menancap di pipi putra Siti Aminah itu.

Abu ‘Ubaidah terenyuh. Dia pun mendekati Nabi Muhammad SAW. “Ya Rasulullah, izinkan saya membersihkan wajah muliamu,” kata Abu ‘Ubaidah lirih. Suaranya tercekat, air matanya tumpah. Perang Uhud kali ini membuatnya berduka.

Rasulullah mengangguk, mengiyakan permintaan Abu ‘Ubaidah. Menggunakan gigi, dia mengelurkan logam-logam itu dari pipi Rasulullah SAW.

Tak ingin tindakannya justru menimbulkan rasa sakit pada diri Rasulullah, Abu ‘Ubaidah menggigit pecahan topi baja yang menonjol dari pipi Rasulullah. Setelah topi baja pecah, perlahan lahan dia keluarkan dari pipi Nabi Muhammad SAW. Beberapa kali dia lakukan hal itu hingga dua giginya tanggal sebab menggigit topi baja.

Setelah pecahan topi baja berhasil diangkat dari pipi Rasulullah SAW, Malik maju. Dia meminta izin untuk membersihkan darah dari wajah Rasulullah dengan cara menyedot.

Setelah darah tersedot, Malik merasa tak pantas untuk meludahkan darah seorang Rasul. Maka Malik pun menelan tetesan darah Rasulullah. Berulang-ulang dia lakukan itu hingga akhirnya wajah Rasulullah pun kembali cerah.

Setelah merasa segar, Rasulullah dan para sahabat bergerak ke arah tebing. Kepada pasukan Muslim yang tersisa disiarkan bahwa Rasulullah masih hidup. Seketika pasukan Muslim gembira. Meski 70 tentara Islam gugur sebagai Syuhada, Rasulullah selamat dalam Perang Uhud.***DTK

About informasi terpercaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*