27 Oktober 2019

PEMUDA DI ERA MILENIAL ANTARA TANTANGAN DAN HARAPAN


MEDAN | informasiterpercaya.com

Perbedaan peran pemuda di era penjajahan dan milenial. Di zaman penjajahan, pemuda berupaya semaksimal mungkin mengusir penjajah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mereka berjuang hidup atau mati demi ibu pertiwi. Sambil memekik merdeka…mereka…merdeka hidup atau mati. Begitulah peran pemuda yang sangat gigih tanpa memikirkan keselamatan dirinya yang terpenting addalah satu tujuan Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan. Sehingga, pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia mengucapkan proklamasinya untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

Sedangkan, di era milenial peran pemuda juga berperang. Namun, perang yang dimaksud bukan perang menggunakan senjata seperti zaman penjajahan, akan tetapi berperang melawan kebudayaan asing dan pengaruh obat-obatan terlarang (narkoba) yang makin merajalela mempengaruhi pikiran para pemuda genarasi bangsa. Saat ini, pemuda menjadi incaran mafia narkoba supaya indeks pemakai di kalangan pemuda meningkat. Bahkan, anak-anak pelajar pun diindikasi sudah terkontaminasi penggunaan narkoba jenis sabu-sabu.

“Kita sebagai generasi muda sangat prihatin melihat kondisi saat ini. Untuk itu, diharapkan aparat kepolisian serius memberantas peedaran narkoba di kalangan pemuda. Dan kami selaku pemuda akan tetap berupaya membantu meringankan beban pemerintah dalam menanggulani masalah ini” kata Sekretaris Karang Taruna Kota Medan, Suhardi Arbie ketika dihubungi melalui telepon selularnya, Minggu (27/10/2019).

Dari kaca pandang Sekretaris Karang Taruna Kota Medan ini, kata pemuda selalu disamakan sekelompok anak muda yang masih kecil alias bau kencur, belum berpengalaman, belum matang dalam berfikir dan belum stabil secara emosi. Maka dari itu, kata Suhardi Arbie, secara umum orang tidak terlalu memperhitungkan kelompok pemuda ini karena dianggap pola berpikirnya cenderung idealis. Tidak realistis dan sering mengambil keputusan berdasarkan emosi dan perasaan belaka.

Masih menurut orang nomor dua di Karang Taruna Kota Medan ini, ada tiga peran penting pemuda pada era milenial yang harus dilakukan pertama sebagai agent of change. Secara sosial politik, digitalisasi telah membuka lebar keran pertukaran informasi, transparansi data, serta memudahkan akses mobilisasi politik. Sebagai lini utama pengguna teknologi, kaum millennials berperan penting dalam menjaga iklim demokrasi.

Kedua yakni peran pemuda sebagai innovator. Dari kacamata ekonomi politik, digitalisasi juga sangat mempengaruhi proses komodifikasi dan spasialisasi melalui teknologi. Komodifikasi adalah sebuah proses mengubah sesuatu menjadi bernilai ekonomis. Sementara spasialisasi adalah proses efisiensi dalam mendistribusiakan produk dengan cara memangkas jarak dan waktu. Berbagai macam karya anak muda Indonesia, seperti aplikasi transportasi online (Gojek dan Grab), atau aplikasi belanja online seperti Bukalapak, Tokopedia, dan sebagainya merupakan contoh dari komodifikasi dan spasialisasi yang memberikan kontribusi dalam memudahkan mobilisasi masyarakat Indonesia. Bahkan, inovasi kaum millennials mampu membuka ribuan lapangan pekerjaan dan berkontribusi dalam perekonomian negara.

Selanjutnya yang ketiga adalah sebagai promoter bangsa. Tidak melulu berkontribusi diartikan dalam konteks makro seperti tiga contoh sebelumnya. Peran nyata kaum millennials juga bisa diaplikasikan dalam konteks mikro. Misalnya membawa kemajuan di bidang pariwisata dan kebudayaan melalui media sosial. Sifat dinamis dan kreatif yang ada dalam diri anak muda, secara tidak langsung menjadi corong bangsa untuk mempromosikan potensi yang ada di dalamnya. Adalah peran pemuda unuk mengkonversi kecintaannya dalam berpetualang, jalan-jalan, dan kreatif bermedia sosial, menjadi sebuah upaya untuk menggaungkan budaya dan pariwisata tanah air ke mata dunia internasional.

“Memang di era saat ini sesuai pantauan saya kreatifitas anak-anak muda sangat menonjol karena mereka tak mau kalah bersaing dengan teknologi yang semakin canggih. Ini menunjukkan bahwa pemuda telah menyadari sebagai generasi penerus bangsa Indonesia,” kata Suhardi Arbie.***ADI WASGO

About informasi terpercaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*