11 Oktober 2019

Presiden Afrika Selatan Minta Rakyatnya Toleran Kepada Migran


CAPE TOWN | informasiterpercaya.com

Presiden Afrika Selatan Minta Rakyatnya Toleran Kepada Migran

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa meminta kepada rakyatnya untuk toleran terhadap para migran. Permintaan itu terjadi karena pengungsi merasa keselamatan terancam.

Dikutip dari AFP, Ramaphosa meminta kepada masyarakat Afrika Selatan untuk lebih memahami imigran yang datang.

“Kami bersikeras perlu ada toleransi yang lebih, perlu lebih banyak pemahaman,” kata Ramaphosa kepada majelis tinggi parlemen di Cape Town, Kamis (10/10/2019).
Baca juga: 342 Kilogram Tulang Singa Disita di Bandara Afsel, 3 Orang Ditangkap

Afrika Selatan menampung hampir 268.000 pengungsi dan pencari suaka, terutama dari Somalia, Republik Demokratik Kongo dan Ethiopia, antara lain menurut UNHCR.

Di Afrika Selatan telah terjadi aksi kekerasan xenophobia. Ratusan pengungsi yang berkemah di luar kantor PBB menuntut untuk dipindahkan dari negara itu. Mereka karena khawatir akan keselamatan.

Pada Agustus dan awal September, terjadi gelombang kekerasan xenophobia yang menyebabkan 10 orang Afrika Selatan dan dua migran mati ketika massa turun ke toko-toko milik asing di dan sekitar Johannesburg, menghancurkan properti dan penjarahan.

“Afrika Selatan bukan xenophobia, kami tidak,” kata Ramaphosa.

Ramaphosa menggambarkan kerusuhan baru-baru ini sebagai “dikendalikan oleh kriminalitas”.

Ramaphosa menyebut migrasi adalah tantangan bagi penduduk lokal. Bagaimana mereka berasing untuk sumber daya dan layanan yang terbatas.

“Seharusnya tidak pernah ada bentuk prasangka apa pun yang akan dilakukan atau dilakukan terhadap orang lain,” ucap Ramaphosa.

“Sebagai orang Afrika Selatan kita harus saling merangkul dan memang kita juga harus merangkul warga negara asing,” tambah Ramaphosa.

Sebagai negara Afrika yang paling maju, Afrika Selatan adalah magnet bagi para migran ekonomi yang mencari prospek pekerjaan yang lebih baik dan pencari suaka yang mencari keselamatan.

Namun, beberapa blok jauhnya dari kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), di mana hingga 300 orang asing melakukan aksi duduk, menuntut dikeluarkan dari Afrika Selatan dengan mengatakan mereka tidak lagi aman.

Mereka bersumpah untuk tidak meninggalkan tempat itu sampai UNHCR menyampaikan keprihatinan mereka.***DTK

About informasi terpercaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*