29 September 2019

Pelatihan dan Gathering Wartawan Kota Medan

WIWIEK: PEREKONOMIAN RI LAMBAT AKIBAT GEJOLAK PEREKONOMIAN DUNIA

KARO—Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Provinsi Sumut, Wiwiek Siswo Widayat mengungkapkan, perkembangan perekonomian di Indonesia khususnya di Sumatera Utara tidak terlepas dari dampak terlambatnya ekonomi dunia. Terbukti, dampak dari gejolak perekonomian dunia tersebut membuat putaran roda perekonomian di Indonesia memasuki fase menurun.

“Dulu pertumbuhan ekonomi dunia bisa mencapai 4 persen, sekarang hanya 3,2 persen. Nah, akibat kondisi semacam ini maka semua berdampak. Untuk itulah, kita perlu adanya perbaikan sistemnya supaya perekonomian di Sumut tetap stabil,” kata Wiwiek ketika membuka pelatihan dan gathering wartawan unit Bank Indonesia selama tiga hari (Rabu-Jumat 25/26/27/2019) di Taman Simalem Resort, Karo.

Disebutkan, terganggunya perekonomian di Sumatera Utara disebabkan dari wilayah seperti Amerikan, India, China dan sejumlah negara Eropa lainnya. “Negara-negara ini merupakan pangsa pasar yang terbesar ekspor komoditi-komoditi Indonesia terutama Sumatera Utara,” ujarnya.

Dia mencontohkan, negara China merupakan pangsa pasar terbesar batubara Indonesia dan sawit begitu juga ke India. “Nah jika dibiarkan begitu saja maka perekonomian di Indoensia mejadi goyah,” ujarnya. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus diperbaiki dalam pertumbuhan ekonomi yang menurun di Sumut ini perlu strategi-strategi yakni diperlukan untuk sumber pertumbuhan baru.

“Identifikasi dulu lalu kita cari sumber berupa sektor yang memberikan kontribusi perekonomian di Sumut. Seperti sektor pertanian, sektor konstruksi, sektor perdagangan besar dan eceran lalu sektor jasa-jasa,” bebernya.

Tak hanya itu saja, sambung Wiwiek di Sumut yang menggantungkan kepada ekspor pada industri yang hanya di sisi hulu saja, dan ternyata Sumut juga mengalami ketimpangan yang sangat besar antara daratan dan kepulauan yang berbeda.

“Jadi harus juga dari sisi hilirnya. Lalu penilaian investasi yang ternyata memang kita itu dalam tanda petik kita kurang ramah terhadap investor. Maka kita juga harus mengembangkan ini kedepannya,” bebernya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Sumut pada kuartal kedua 2019 mencapai 5,25 persen. Perekonomian Sumut Triwulan II 2019 tumbuh 5,25 persen, sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya yaitu 5,31 . Meskipun demikian, pencapaian tersebut di atas pertumbuhan ekonomi secara nasional dan Sumatra.

“Perlambatan disebabkan oleh kontraksi dari sisi ekspor sejalan dengan perlambatan ekonomi global serta penurunan harga komoditas kelapa sawit di pasar internasional . Namun demikian, perekonomian masih ditopang oleh perbaikan Konsumsi Rumah Tangga didukung oleh realisasi Tunjangan Hari Raya (THR) menjelang HKBN Ramadhan dan Idul Fitri,” sebutnya.

Tak hanya investasi juga meningkat terutama dari komponen bangunan seiring dengan realisasi belanja modal pemerintah yang sudah mulai berjalan. Dari sisi lapangan usaha, perlambatan ekonomi disebabkan oleh sektor industri pengolahan terutama subsektor industri makanan dan minuman serta tembakau.

“Pangsa ekonomi Sumatera Utara merupakan pangsa ekonomi terbesar diantara 10 provinsi di Sumatera. Untuk itu ekonomi Sumut bisa mempengaruhi ekonomi di Sumatera. Tahun ini prospek ekonomi menguat didukung oleh berkelanjutannya proyek-proyek strategis multiyears di Sumatera Utara serta perbaikan daya beli masyarakat,” pungkasnya.***ADI WASGO

About informasi terpercaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*