15 November 2018

Dengan MRT, Jakarta Kejar Tokyo


PEMERINTAH Indonesia berencana meningkatkan rasio transportasi publik yang pada 2017 baru 20% ke angka 60% pada 2029. Jika terealisasi, jelasnya, angka itu hampir menyamai level Tokyo, Jepang, dan London, Inggris.

Salah satu langkah untuk mendukung peningkatan rasio itu ialah pembangunan sistem transportasi massal atau MRT yang menjangkau seluruh wilayah Jakarta. Proyek transportasi publik urban itu dijadwalkan mulai beroperasi pada Maret 2019. Japan International Cooperation Agency (JICA) merupakan pihak yang memfasilitasi pendanaan proyek mercusuar ini.

“MRT Jakarta merupakan salah satu loan project yang dibiayai oleh JICA,” ujar Adachi Hiroaki, perwakilan JICA untuk Indonesia, saat memberikan kuliah umum di Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia (UI), kemarin.

“JICA telah mendukung revisi rencana induk transportasi perkotaan Jabodetabek,” lanjut Adachi.

Dalam melaksanakan pembangunan MRT, Adachi mengatakan pihaknya terus meningkatkan proporsi konten lokal berkaitan dengan produk dan layanan. Saat ini proporsi itu telah mencapai sekitar 65% lokal, atau hanya 35% porsi yang dimiliki Jepang.

Tantangan ke depan, menurut Adachi, JICA dan pemerintah Indonesia berencana meningkatkan konektivitas antara MRT dan transportasi-transportasi publik lainnya. “Yang kita inginkan bagaimana Stasiun Dukuh Atas MRT ini bisa seperti Stasiun Shinjuku (Tokyo). Inilah tantangan kita selanjutnya,” tandasnya.

Dia menambahkan, transportasi perkotaan sangat mendesak di Jakarta mengingat populasi Jabodetabek terus meningkat dari tahun ke tahun, dari 27 juta pada 2015 dan diprediksi mencapai 37 juta jiwa pada 2030. Di sisi lain, pertumbuhan jumlah sepeda motor dan mobil juga meningkat signifikan sebesar 1.425% dan 315% masing-masing.

Jakarta, lanjutnya, diprediksi akan menjadi kota paling padat penduduknya pada 2030. Pada tahun itu, ibu kota Indonesia ini akan mengalahkan Tokyo yang menempati posisi kedua, Karachi, Pakistan, Manila, Filipina, dan Kairo, Mesir.

“Dengan demikian, pertumbuhan penduduk dan kendaraan bermotor tadi akan menciptakan masalah lalu lintas yang parah,” kata dia.

Kehadiran MRT selain bisa mengurangi kendaraan bermotor juga diharapkan meningkatkan konsumsi listrik. General Manager PLN Disjaya, Iksan Asaad, memperkirakan kehadiran moda raya terpadu (MRT) dan light rail transit (LRT) memberikan tambahan pertumbuhan konsumsi listrik sekitar 65 Mw untuk MRT dan 35 Mw untuk LRT.

“Kita memang mendorong transportasi itu bisa berubah setelah kendaraan listrik, motor listrik, dan KRL. Sekarang MRT 65 Mw, LRT itu 35 Mw,” paparnya di Jakarta, kemarin.

About informasi terpercaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*